Sabtu, 21 Juni 2014

SEJARAH PENDIDIKAN DI ACEH

RIVALITAS IDEOLOGI PENDIDIKAN
ERA KOLONIAL DI ACEH PADA ABAD KE 19
OLEH : IRFAN DAME

Ideologi pendidikan secara umum dapat dipahami sebagai kumpulan konsep pendidikan yang disusun secara sistematis dalam memberi arah untuk mencapai tujuan pendidikan secara ideologis. Makna yang terkandung di dalamnya menyangkut ide spiritual religius, kebudayaan, sosial dan politik sebagai pedoman dalam rangka pengembangan manusia secara utuh. Penataan konsep pendidikan semata-mata  hanyalah sebagai usaha mempertahankan nilai-nilai spiritual yang dianut komunitas masyarakat itu sendiri. Dengan demikian substansi pendidikan itu dapat terealisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pendidikan selalu memiliki relasi dengan kekuatan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dibalik upaya belanda membangun pendidikan modern ternyata terselip misi besar dalam konteks eksistensi hegemoni belanda di aceh. Perlahan dan pasti gesekan mulai muncul antara ideologi islam dan barat dalam dunia pendidikan aceh awal abad dua puluh. Menurut Leopold van ranke dalam sejarah yang menarik bukanlah peristiwanya, tetapi mengapa peristiwa itu terjadi. Maka dari itu dibutuhkan suatu pemikiran dan analisa yang radikal untuk memahami latar belakang terjadinya suatu peristiwa sejarah, dalam hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah kolonial membangun pendidikan modern di aceh.
Menganalisis “kebaikan” belanda yang mencanangkan pendidikan modern di aceh awal abad dua puluh tentu tidak gampang. Berangkat dari pendapat leopold di atas tentu dibutuhkan pemikiran yang radikal untuk mencari tahu misi apa sebenarnya yang disembunyikan belanda di balik pendirian dan pengembangan pendidikan modern tersebut..?
Masih berdasarkan pendapat leopold, tentu yang menarik dari pencanangan pendidikan modern tersebut bukanlah “kepedulian” belanda terhadap rakyat aceh yang konon bertujuan untuk meningkatkan taraf pendidikan, melainkan adanya sebuah misi besar yang ‘dibonceng’ belanda di balik upaya itu.
Pada era kolonial, pendidikan sekaligus ideologi yang memayunginya tidak dapat dipisahkan dengan politik dan kekuasaan. Pendidikan dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan hegemoni dalam konteks rivalitas ideologi islam dan barat. Snouck Hurgronje menganalisa dalam perlawanan rakyat aceh terhadap kolonial belanda merupakan sebagai akibat kuatnya sistem nilai dalam pendidikan islam yang berorientasi pada jihad di jalan Allah  (fisabilillah). Perlawanan ini hanya mungkin  bisa diredam dan diakhiri apabila golongan uleebalang dapat dirangkul ke dalam lingkungan kebudayaan dan sistem nilai belanda dalam hal ideologi pendidikan barat yang berdasarkan kepentingan kolonial semata. Untuk itu pemerintah kolonial harus menciptakan kelompok elit baru yang dididik berdasarkan sistem nilai belanda. Setali tiga uang adalah pelemahan terhadap ideologi  islam. Ketika kaum  elit baru tersebut sudah terbentuk sesuai dengan konsep belanda, Maka dengan sendirinya golongan ulama dan uleebalang yang masih melakukan perlawanan akan terkucilkan dalam strata sosial masyarakat aceh.
Snouck merekomendasikan pemerintah kolonial agar masyarakat Aceh harus mengadakan perubahan untuk mewujudkan suatu masyarakat aceh modern yang hidup dengan pola kebarat-baratan. Berlandaskan pemikiran ini belanda berupaya keras untuk menyuntikkan unsur-unsur budaya barat ke dalam budaya lokal yang berakibat kepada akulturasi yang menguntungkan kolonial belanda semata. Westernisasi dalam bidang sosial maupun budaya menuntun masyarakatnya kepada perubahan sosial dan perubahan kebudayaan yang memiliki tendensi negatif dan berpeluang merusak tatanan budaya lokal yang telah mapan.
Untuk upaya tersebut bangsawan Aceh (uleebalang) diminta untuk menjadi ‘gala’ antara pemerintah kolonial belanda dan rakyat. Sebagai perpanjangan tangan belanda uleebalang menjalankan rumusan-rumusan yang sudah digariskan untuk melancarkan modernisasi dan sekaligus menyisihkan  hambatan dari kekuatan rivalnya, ulama aceh.
Hal ini senada dengan tulisan Prof.Dr. H. Ibrahim Alfian, M.A Dalam bukunya berjudul Wajah Aceh dalam Lintasam Sejarah (2005:227) yang menyuguhkan tulisan tentang usaha belanda dalam bidang pendidikan di Aceh pada awal abad XX. Dalam uraian tersebut beliau menjelaskan bahwa belanda memberdayakan uleebalang dan lembaga adatnya sebagai pelaksana kebijakan pemerintah kolonial. Lembaga adat tersebut disesuai-gunakan dengan struktur birokrasi yang disusun belanda. Maka sangat diperlukan para bangsawan yang berwawasan barat agar dapat menyesuaikan dan bersosialisasi dengan aparatur pemerintah. Rakyat juga perlu diberikan pendidikan modern. Untuk itu belanda membangun lembaga pendidikan di pelbagai perkampungan, lembaga itu disebut Sekolah Desa.
Secara umum ada dua faktor yang mendorong kolonial belanda menerapkan sistem pendidikan modern yang berhaluan barat di Aceh. Pertama sebagai implementasi politik etis (1901), politik ini dikenal juga politik balas budi karena belanda dianggap memiliki hutang budi kepada rakyat Indonesia. Hutang budi tersebut sangat beralasan tentunya, karena sudah sejak berabad-abad lamanya belanda mengeksploitasi kekayaan alam indonesia termasuk aceh untuk pembangunan bangsa dan negara belanda semata. Kedua, sebagai tandingan terhadap ideologi pendidikan islam beserta lembaga pendidikan yang memayunginya. adapun bentuk lembaga pendidikan islam tersebut adalah ; meunasah, rangkang, dayah dan dayah manyang. Penelitian Snouck Hurgronje terhadap kontribusi lembaga tersebut dalam menentang belanda adalah sangat besar. Maka untuk itu, perlu diadakan lembaga yang mampu mengimbangi pengaruh dayah tersebut dalam kehidupan rakyat aceh secara umum.
Agaknya politik devide et impera masih saja terkandung dalam upaya peningkatan taraf pendidikan rakyat pada awal abad ke dua puluh. Analisis dan pemikiran  C.Snouck Hurgronje mulai diapliksikan dengan sedikit kamuflase kebijakan politik etis yang dicetuskan oleh van de venter. Hasilnya lahirlah golongan-golongan elit yang bertendensi ke barat, dalam hal ini pemerintah kolonial belanda. Perlahan tapi pasti gesekan mulai muncul antara ideologi islam dan barat didalam dunia pendidikan Aceh. Bila dianalisis secara radikal, substansi dari politik ini adalah menguasai perhatian dan simpati rakyat dan mengurangi eksistensi ideologi fii sabilillah. Dengan demikian belanda akan tetap hidup di aceh. Dengan kata lain pengadaan pendidikan modern ini belanda berkeyakinan bahwa rakyat tidak akan mengikuti seruan jihad golongan uleebalang dan kaum ulama untuk melawan pemerintah kolonial belanda.
Pada tahap awal, penerapan pendidikan hanya diperuntukkan kepada kaum bangsawan aceh yang tentunya bersifat kooperatif terhadap kolonial belanda. Dan untuk rakyat aceh secara umum pada tahap selanjutnya. Sebagai pembuka, pada tahun 1901 diberikan kesempatan pada beberapa putra uleebalang untuk menempuh pendidikan modern di Kuta Raja (sekarang Banda Aceh).
Pendirian lembaga pendidikan di pelbagai perkampungan mulanya mendapat rintangan yang besar oleh rakyat yang antipati pada pemerintah kolonial belanda. Secar khusus lembaga pendidikan ini juga ditentang oleh ulama. Penentangan ini bukan tampa alasan, para ulama tersebut berpedoman pada peringatan Al-qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 120 yang artinya  “dan orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada mu (muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari allah.”
Sekolah desa diplesetkan menjadi sikula dosa. Akibat stigmatisasi tersebut jumlah wali murid yang mau menyekolahkan putra-putri mereka pada sekolah bikinan belanda tersebut sangat sedikit. Selain itu ada dua hal yang menyebabkan sulitnya perkembangan dan pertumbuhan lembaga pendidikan modern di aceh yaitu, pertama jumlah guru yang dapat berbahasa aceh sangat  minim. Wajar saja karena guru-guru tersebut didatangkan dari daerah tapanuli dan bukit tinggi. Kedua rakyat aceh secara umum menolak konsep pendidikan yang diterapkan belanda terlebih ulama dan para pejuang juga melarang rakyat untuk berpartisipasi dalam lembaga tersebut.
Penolakan terhadap unsur pendidikan modern tersebut didasarkan pada pertentangan ideologi yang kompleks yaitu islam dan barat. Untuk memahami polemik yang terjadi maka perlu dianalisis kembali pendidikan aceh sebelum munculnya moderrnisasi. Diketahui bahwa pendidikan Aceh di masa yang silam sangat beorientasi pada pendidikan agama islam. Ada empat tingkatan pendidikan di Aceh sebelum terjadinya modernisasi pendidikan awal abad ke dua puluh diantaranya ; pertama,  lembaga pendidikan meunasah (setingkat Madrasah Ibtidayah atau sekolah dasar)  lembaga ini terdapat di setiap perkampungan (gampong). di meunasah anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, dan pengetahuan dasar berupa hukum-hukum islam, berwudhu, sholat, puasa, shodaqoh dan lain-lain. Kedua, lembaga pendidikan rangkang (setingkat Tsanawiyah atau sekolah menengah pertama) , rangkang dibangun disekitar masjid. Berupa pondok-pondok untuk pelajar yang akan menuntut ilmu agama islam. Mata pelajaran yang diberikan tidak jauh berbeda dengan meunasah hanya saja lebih kepada pendalaman materi. Ketiga, lembaga  pendidikan dayah (setingkat Madrasah Aliyah atau sekolah menengah atas) pada lembaga ini pelajaran agama sangat menekankan pada ajaran tauhid, syahid fii sabilillah. Mereka yang sudah menyelesaikan tingkat ini biasanya sudah mampu berdiri menjadi tengku meunasah di tempat asalnya masing-masing. Keempat, lembaga pendidikan Dayah Manyang (setingkat dengan perguruan tinggi). Kurikulum  yang di ajarkan dalam lembaga ini adalah; ilmu hisab (astronomi), tasawuf, fiqh, tafsir Al-qur’an, ilmu mantiq (logika), dan lain-lain. Dari keempat tingkat lembaga pendidikan islam diatas, jelaslah ideologi yang dianut berasaskan islam.
Rivalitas dua ideologi mewarnai dunia pendidikan Aceh pada permulaan awal abad ke dua puluh. Di satu sisi ideologi pendidikan islam mengajarkan jihad dan tidak membenarkan adanya kolonialisme. Tentunya setiap penjajahan haruslah ditumpas habis dalam hal ini menyingkirkan hegemoni belanda yang berupaya menguasai aceh. Salah satu aplikasi Ideologi ini ditulis dalam bentuk  hikayat-hikayat perang sabil. Hikayat tersebut ditulis oleh seorang ulama besar dari kalangan mereka sendiri. Dalam hikayat sering kali ditemukan ayat Al-Qur’an sebagai substansi ideologi pendidikan islam salah satunya surat At-Taubah ayat 111 yang artinya : “Sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, injil dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar.”
Keberadaan ideologi pendidikan islam itu mengantarkan pada semangat dan intensitas perlawanan baik dengan cara konfrontasi maupun secara halus terhadap kolonial belanda. Mati syahid menjadi satu kebanggan besar, sebab diri dan harta mereka telah dibeli Allah dengan surga. Bagaimana mungkin bangsa aceh mampu merelakan harta, darah dan jiwa untuk berperang di jalan Allah, melainkan karena telah terbangunnya ideologi islam dalam jiwa mereka sejak duduk di bangku sekolah bernama meunasah, bahkan sejak mereka berada di dalam kandungan dan ayunan.
Disisi lain pengembangan pendidikan barat dilakukan dengan dua cara pertama, dengan jalan sukarela, yaitu mereka yang telah memiliki relasi kuat dengan belanda. Kedua pengembangan dengan cara refresi. Hal ini senada dengan laporan seorang pengawas pendidikan bumi putera, A. Vogel pada tahun 1919, yang menggambarkan bahwa awal pendirian sekolah desa tidak mendapat tempat di hati rakyat yang berakibat pertumbuhan sekolah berjalan dengan sangat lamban, akhirnya melalui proses penekanan terhadap rakyat Aceh sekolah tersebut perlahan mengalami perubahan yang signifikan.
Paksaan untuk harus menerima pendidikan barat ini dapat diartikan sebagai pertarungan dua ideologi yang bermuara kepada tujuan terselubung dibalik perencanaan pendidikan yang sekilas terlihat memperhatikan rakyat aceh. Namun sebenarnya tujuan belanda hanyalah untuk menguasi hati rakyat aceh. Dengan demikian upaya penjajahan di bumi aceh dapat terealisasi dengan mulus.
Penulis adalah mahasiswa FKIP-Sejarah Universitas Samudra  



pada hakekatnya sekolah modern tersebut didirikan demi kepentingan kolonial belanda serta perusahaan-perusahaannya. Namun oleh beberapa kalangan rakyat hal ini dijadikan sebagai jalan untuk mobilitas sosial yang berdampak pada perubahan sosial yakni elite intelektual menggeser peranan elite tradisional masyarakat aceh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar