RIVALITAS IDEOLOGI
PENDIDIKAN
ERA KOLONIAL DI ACEH PADA ABAD KE 19
OLEH : IRFAN DAME
Ideologi pendidikan secara umum dapat dipahami
sebagai kumpulan konsep pendidikan yang
disusun secara sistematis dalam memberi arah untuk
mencapai tujuan pendidikan secara ideologis. Makna yang terkandung di dalamnya
menyangkut ide spiritual religius,
kebudayaan, sosial dan politik sebagai pedoman dalam rangka pengembangan manusia
secara utuh. Penataan konsep pendidikan semata-mata hanyalah sebagai usaha mempertahankan nilai-nilai
spiritual yang dianut komunitas masyarakat itu sendiri. Dengan demikian
substansi pendidikan itu dapat terealisasi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
Pendidikan selalu
memiliki relasi dengan kekuatan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dibalik upaya belanda membangun
pendidikan modern ternyata terselip misi besar dalam
konteks eksistensi hegemoni belanda di aceh. Perlahan dan pasti gesekan mulai muncul antara ideologi
islam dan barat dalam dunia pendidikan aceh awal abad dua puluh. Menurut Leopold van ranke dalam sejarah yang menarik
bukanlah peristiwanya, tetapi mengapa peristiwa itu terjadi. Maka dari itu
dibutuhkan suatu pemikiran dan analisa yang radikal untuk memahami latar
belakang terjadinya suatu peristiwa sejarah, dalam hal ini berkaitan dengan
kebijakan pemerintah kolonial membangun pendidikan modern di aceh.
Menganalisis “kebaikan”
belanda yang mencanangkan pendidikan modern di aceh awal abad dua puluh tentu
tidak gampang. Berangkat dari pendapat leopold di atas tentu dibutuhkan
pemikiran yang radikal untuk mencari tahu misi apa sebenarnya yang
disembunyikan belanda di balik pendirian dan pengembangan pendidikan modern
tersebut..?
Masih berdasarkan pendapat leopold, tentu yang menarik
dari pencanangan pendidikan modern tersebut bukanlah “kepedulian” belanda terhadap rakyat aceh yang konon bertujuan
untuk meningkatkan taraf pendidikan, melainkan adanya sebuah misi besar yang ‘dibonceng’ belanda di balik upaya itu.
Pada era kolonial, pendidikan sekaligus ideologi yang
memayunginya tidak dapat dipisahkan dengan politik dan kekuasaan. Pendidikan
dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan hegemoni dalam konteks rivalitas
ideologi islam dan barat. Snouck Hurgronje menganalisa
dalam perlawanan rakyat aceh
terhadap kolonial belanda merupakan
sebagai akibat kuatnya sistem nilai dalam pendidikan islam yang berorientasi pada jihad di jalan Allah (fisabilillah). Perlawanan ini hanya mungkin bisa diredam dan diakhiri apabila golongan uleebalang dapat
dirangkul ke dalam lingkungan
kebudayaan dan sistem nilai belanda dalam
hal ideologi pendidikan barat yang berdasarkan kepentingan kolonial semata.
Untuk itu pemerintah kolonial
harus menciptakan kelompok
elit baru yang dididik berdasarkan sistem nilai belanda. Setali tiga uang adalah
pelemahan terhadap ideologi islam.
Ketika kaum elit baru tersebut sudah
terbentuk sesuai dengan konsep belanda, Maka dengan sendirinya golongan ulama
dan uleebalang yang masih melakukan perlawanan akan terkucilkan dalam strata
sosial masyarakat aceh.
Snouck merekomendasikan
pemerintah kolonial agar masyarakat
Aceh harus mengadakan
perubahan untuk mewujudkan suatu masyarakat
aceh modern yang hidup dengan pola kebarat-baratan.
Berlandaskan pemikiran ini belanda berupaya
keras untuk menyuntikkan unsur-unsur budaya
barat ke dalam budaya lokal yang berakibat kepada akulturasi
yang menguntungkan kolonial belanda semata.
Westernisasi dalam bidang sosial maupun budaya menuntun masyarakatnya
kepada perubahan sosial dan perubahan kebudayaan yang memiliki tendensi negatif
dan berpeluang merusak tatanan budaya lokal yang telah mapan.
Untuk upaya tersebut
bangsawan Aceh (uleebalang)
diminta untuk menjadi ‘gala’ antara
pemerintah kolonial belanda dan rakyat. Sebagai
perpanjangan tangan belanda uleebalang menjalankan rumusan-rumusan
yang sudah digariskan untuk
melancarkan modernisasi
dan sekaligus menyisihkan hambatan dari
kekuatan rivalnya, ulama aceh.
Hal ini senada dengan tulisan Prof.Dr.
H. Ibrahim Alfian, M.A Dalam bukunya berjudul Wajah Aceh dalam Lintasam Sejarah (2005:227)
yang menyuguhkan tulisan tentang usaha
belanda dalam bidang pendidikan di Aceh pada awal abad XX. Dalam uraian
tersebut beliau menjelaskan bahwa belanda
memberdayakan uleebalang dan lembaga adatnya sebagai pelaksana kebijakan
pemerintah kolonial. Lembaga adat tersebut disesuai-gunakan dengan struktur
birokrasi yang disusun belanda. Maka sangat
diperlukan para bangsawan
yang berwawasan barat agar dapat menyesuaikan dan
bersosialisasi dengan aparatur pemerintah.
Rakyat juga perlu diberikan pendidikan modern. Untuk itu belanda
membangun lembaga pendidikan di pelbagai perkampungan, lembaga itu disebut
Sekolah Desa.
Secara umum ada dua faktor
yang mendorong kolonial belanda menerapkan sistem pendidikan modern yang
berhaluan barat di Aceh. Pertama sebagai
implementasi politik etis (1901), politik
ini dikenal juga politik balas budi karena belanda dianggap memiliki hutang
budi kepada rakyat Indonesia. Hutang budi
tersebut sangat beralasan tentunya, karena sudah sejak berabad-abad lamanya
belanda mengeksploitasi kekayaan alam indonesia termasuk aceh untuk pembangunan
bangsa dan negara belanda semata. Kedua, sebagai tandingan
terhadap ideologi pendidikan islam beserta lembaga pendidikan yang memayunginya. adapun
bentuk lembaga pendidikan islam tersebut
adalah ; meunasah, rangkang, dayah dan dayah manyang. Penelitian Snouck
Hurgronje terhadap kontribusi lembaga tersebut dalam menentang belanda adalah
sangat besar. Maka untuk itu, perlu diadakan lembaga yang mampu mengimbangi
pengaruh dayah tersebut dalam kehidupan rakyat aceh secara umum.
Agaknya politik devide
et impera masih saja terkandung
dalam upaya peningkatan taraf pendidikan rakyat pada awal abad ke dua puluh. Analisis dan
pemikiran C.Snouck Hurgronje mulai
diapliksikan dengan sedikit kamuflase kebijakan politik etis yang dicetuskan
oleh van de venter. Hasilnya lahirlah golongan-golongan elit yang bertendensi ke barat, dalam hal ini pemerintah kolonial belanda.
Perlahan tapi pasti gesekan mulai muncul antara ideologi islam dan barat didalam dunia pendidikan
Aceh. Bila dianalisis secara radikal, substansi dari politik ini adalah
menguasai perhatian dan simpati rakyat dan mengurangi eksistensi ideologi fii sabilillah. Dengan
demikian belanda akan tetap hidup di aceh. Dengan kata lain pengadaan pendidikan
modern ini belanda berkeyakinan bahwa rakyat tidak akan mengikuti seruan jihad golongan uleebalang dan kaum ulama untuk melawan pemerintah kolonial belanda.
Pada tahap awal,
penerapan pendidikan hanya diperuntukkan kepada kaum bangsawan aceh
yang tentunya bersifat kooperatif
terhadap kolonial
belanda. Dan untuk rakyat aceh secara umum pada tahap selanjutnya. Sebagai pembuka, pada tahun 1901 diberikan
kesempatan pada beberapa putra uleebalang untuk menempuh pendidikan modern di Kuta Raja (sekarang Banda Aceh).
Pendirian lembaga pendidikan di pelbagai
perkampungan mulanya mendapat rintangan yang besar oleh rakyat yang antipati
pada pemerintah kolonial
belanda. Secar khusus lembaga pendidikan ini juga ditentang oleh ulama.
Penentangan ini bukan tampa alasan, para ulama tersebut berpedoman pada
peringatan Al-qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 120 yang artinya “dan
orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada mu (muhammad) sebelum
engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk allah itulah
petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah
ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong
dari allah.”
Sekolah desa diplesetkan menjadi sikula dosa. Akibat stigmatisasi
tersebut jumlah wali murid yang mau menyekolahkan putra-putri mereka
pada sekolah bikinan belanda tersebut
sangat sedikit. Selain itu ada dua hal
yang menyebabkan sulitnya perkembangan dan pertumbuhan lembaga pendidikan
modern di aceh yaitu, pertama jumlah
guru yang dapat berbahasa aceh sangat
minim. Wajar saja karena guru-guru tersebut didatangkan dari daerah
tapanuli dan bukit tinggi. Kedua rakyat aceh secara umum
menolak konsep pendidikan yang diterapkan belanda terlebih ulama dan para pejuang juga melarang rakyat untuk berpartisipasi dalam lembaga
tersebut.
Penolakan terhadap unsur pendidikan modern tersebut
didasarkan pada pertentangan ideologi
yang kompleks yaitu islam dan barat. Untuk memahami polemik yang terjadi maka
perlu dianalisis kembali pendidikan aceh sebelum munculnya moderrnisasi. Diketahui bahwa pendidikan Aceh
di masa yang silam sangat
beorientasi pada pendidikan agama
islam. Ada empat tingkatan pendidikan di Aceh sebelum terjadinya modernisasi pendidikan awal abad ke
dua puluh diantaranya ; pertama, lembaga pendidikan meunasah (setingkat Madrasah Ibtidayah atau sekolah dasar) lembaga ini terdapat di setiap perkampungan (gampong). di meunasah anak-anak
belajar membaca Al-Qur’an, dan pengetahuan dasar berupa hukum-hukum islam,
berwudhu, sholat, puasa, shodaqoh dan lain-lain. Kedua, lembaga pendidikan rangkang
(setingkat Tsanawiyah atau sekolah menengah pertama) ,
rangkang dibangun disekitar masjid.
Berupa pondok-pondok untuk pelajar yang akan menuntut ilmu agama islam. Mata
pelajaran yang diberikan tidak jauh berbeda dengan meunasah hanya saja lebih
kepada pendalaman materi. Ketiga, lembaga pendidikan dayah (setingkat Madrasah
Aliyah atau sekolah menengah atas) pada lembaga ini pelajaran
agama sangat menekankan pada ajaran tauhid, syahid fii sabilillah. Mereka yang sudah menyelesaikan tingkat ini biasanya
sudah mampu berdiri menjadi tengku meunasah di tempat asalnya masing-masing.
Keempat, lembaga pendidikan Dayah
Manyang (setingkat
dengan perguruan tinggi).
Kurikulum yang di ajarkan dalam lembaga ini adalah; ilmu hisab
(astronomi), tasawuf, fiqh, tafsir Al-qur’an, ilmu mantiq (logika),
dan lain-lain. Dari keempat tingkat lembaga pendidikan islam diatas, jelaslah ideologi yang dianut berasaskan islam.
Rivalitas dua ideologi mewarnai dunia pendidikan
Aceh pada permulaan awal abad ke dua puluh.
Di satu sisi ideologi pendidikan islam mengajarkan jihad dan tidak membenarkan adanya kolonialisme. Tentunya setiap penjajahan haruslah ditumpas habis
dalam hal ini menyingkirkan hegemoni belanda yang
berupaya menguasai aceh. Salah satu aplikasi Ideologi
ini ditulis dalam bentuk hikayat-hikayat perang sabil. Hikayat tersebut ditulis oleh seorang ulama besar dari kalangan
mereka sendiri. Dalam hikayat sering kali ditemukan
ayat Al-Qur’an sebagai substansi ideologi pendidikan islam salah satunya surat
At-Taubah ayat 111 yang artinya : “Sesungguhnya
Allah telah membeli orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan
surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh
atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
injil dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan, dan itulah
kemenangan yang besar.”
Keberadaan ideologi pendidikan islam itu mengantarkan pada semangat dan
intensitas perlawanan baik dengan cara
konfrontasi maupun secara halus
terhadap kolonial
belanda. Mati syahid menjadi satu kebanggan besar, sebab diri dan harta mereka
telah dibeli Allah dengan surga. Bagaimana
mungkin bangsa aceh mampu merelakan harta, darah dan jiwa untuk berperang di
jalan Allah, melainkan karena telah terbangunnya ideologi islam dalam jiwa
mereka sejak duduk di bangku sekolah bernama meunasah, bahkan sejak mereka
berada di dalam kandungan dan ayunan.
Disisi lain pengembangan pendidikan barat dilakukan
dengan dua cara pertama, dengan jalan
sukarela, yaitu mereka yang telah memiliki relasi kuat dengan
belanda. Kedua
pengembangan dengan cara refresi.
Hal ini senada dengan laporan seorang pengawas pendidikan
bumi putera, A. Vogel pada tahun 1919, yang
menggambarkan bahwa awal
pendirian sekolah desa tidak mendapat tempat di hati rakyat yang berakibat
pertumbuhan sekolah berjalan dengan sangat lamban,
akhirnya melalui proses penekanan terhadap rakyat Aceh sekolah tersebut perlahan mengalami perubahan yang
signifikan.
Paksaan untuk harus menerima pendidikan barat ini dapat
diartikan sebagai pertarungan dua ideologi yang bermuara kepada tujuan
terselubung dibalik perencanaan pendidikan yang sekilas terlihat memperhatikan
rakyat aceh. Namun sebenarnya tujuan belanda hanyalah untuk menguasi hati
rakyat aceh. Dengan demikian upaya penjajahan di bumi aceh dapat terealisasi
dengan mulus.
Penulis adalah mahasiswa FKIP-Sejarah Universitas Samudra
pada hakekatnya sekolah modern tersebut didirikan demi
kepentingan kolonial belanda serta perusahaan-perusahaannya. Namun oleh
beberapa kalangan rakyat hal ini dijadikan sebagai jalan untuk mobilitas sosial
yang berdampak pada perubahan sosial yakni elite intelektual menggeser peranan
elite tradisional masyarakat aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar