Rabu, 03 Juni 2015

METODE GOTONG ROYONG BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBANGUNAN SEKOLAH DASAR SWASTA DI LEMBAH JAYA



METODE GOTONG ROYONG BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBANGUNAN SEKOLAH DASAR SWASTA DI LEMBAH JAYA



Irfan Dame, S. Pd
PenulisLangsa@Gmail.com

Abstrak

Tulisan ini mengkaji tentang nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Lembah Jaya, sejarah pendirian dan perkembangan sekolah dasar swasta di Lembah Jaya sebagai perwujudan nilai-nilai kearifan lokal yang direpresentasikan melalui kegotong royongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah (historis) dengan langkah-langkah yang dimulai dari Heuristik, Kritik, Interpretasi dan historiografi. Dalam penelitian ini penulis menemukan adanya Upaya untuk mengentaskan kebodohan dan meningkatkan taraf pendidikan melalui proses pendirian sekolah dasar swasta di Lembah Jaya.
 Keterbatasan akses, keterbatasan ekonomi, keterbatasan sarana dan non sarana lainnya tidak menjadikan masyarakat Lembah Jaya pasif. Segala hambatan-hambatan pendidikan dientaskan dengan bergotong royong. Sehingga persatuan dan kegotong royongan menjadi power tersendiri bagi masyarakat untuk membangun Sekolah Dasar di Lembah Jaya.

Kata Kunci:  Metode Gotong Royong, Kearifan  Lokal,   Masyarakat      Lembah Jaya,  Sekolah Dasar  Swasta Lembah Jaya.

A.    Pendahuluan
Pendidikan adalah kebutuhan  hidup manusia yang sangat mendasar sehingga manusia tidaklah dapat berkehidupan dengan baik tertata tanpa suatu pendidikan yang layak pula. Antara kedua hal diatas tentu tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan rumusan natural yang bersifat mengikat adanya. Pendidikan akan membentuk karakter suatu bangsa, artinya  taraf pendidikan suatu bangsa berbanding lurus dengan kepribadian bangsa itu sendiri. Pendidikan juga membangkitkan kemajuan segala bidang kehidupan suatu bangsa.  Baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik maupun dalam bidang lainnya. Maka daripada itu, tentulah rumusan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam uud 1945 harus menjadi acuan utama pendidikan bangsa Indonesia.
Sejalan dengan hal ini, penegasan dalam UU No 2 tahun 1985 tentang tujuan pendidikan nasional yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tentu tidak mudah mewujudkan Tujuan pendidikan Indonesia sebagaimana tercantum di atas. Tentu hal tersebut hanya dapat tercapai dengan baik apabila pemerataan pendidikan sudah tertata dengan baik sampai ke pelosok-pelosok, manajemen pendidikan yang tepat dan efektif dan komponen pendidikan baik.
Pembangunan pendidikan, lembaga pendidikan, maupun sarana penunjang pendidikan lainnya secara umum di Indonesia masih menjadi permasalahan serius era tahun 1970-an. Persoalan yang kompleks dalam perkembangan pendidikan Indonesia, dimulai dari minimnya pembangunan lembaga sekolah (pemerataan pendidikan) terutama di pedalaman, minimnya fasilitas belajar, minimnya pengembangan sarana belajar yang efektif. Akibatnya masih terjadi kesulitan-kesulitan pencapaian tujuan pendidikan secara umum di Indonesia.
Salah satu wilayah yang terdampak akibat kurangnya pemerataan pendidikan era tahun 1970-an adalah Kabupaten Aceh Timur. Dalam hal ini masyarakat Lembah Jaya. Tidak ada lembaga pendidikan di daerah ini, padahal wilayah ini hanya berjarak 15 kilometer dari ibukota kabupaten Aceh Timur, Langsa.
Perbandingan jumlah lembaga pendidikan dan luas wilayah serta jumlah penduduk aceh timur itu sendiri memiliki perbandingan yang tidak seimbang. Akibatnya muncul ketidakmerataan pendidikan. Apalagi Lokasi yang jauh dari Sekolah dan medan yang sulit seringkali membuat masyarakat berkesimpulan untuk tidak melanjutkan pendidikan anak-anak mereka karena untuk hal itu tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk ukuran mereka saat itu.
Sekolah Dasar terdekat dari Lembah Jaya berjarak sekitar 10 kilometer yaitu Sekolah Dasar di Alue Merbau. Jarak sejauh itu dipersulit lagi dengan kondisi medan jalan yang tidak laik. Dampaknya kondisi seperti ini sangat dirasakan karena generasi masyarakat disekitar ini sangat kesulitan untuk mengakses pendidikan di semua jenjang.
Untuk memutus kesulitan-kesulitan pendidikan di atas masyarakat Lembah Jaya berupaya dengan segala daya untuk membangun lembaga pendidikan tingkat Sekolah Dasar. Meskipun dengan kondisi perekonomian masyarakat berada pada titik terlemah dalam sejarah masyarakat Lembah Jaya.
Sekolah Dasar swasta di Lembah Jaya memiliki keunikan tersendiri dalam sejarah pembangunannya. Proses perintisan pembangunan Sekolah ini sudah dimulai dari tahun 1970. Beberapa kali Sekolah non permanen ini mengalami perpindahan tempat, sebelum akhirnya Sekolah ini disepakati untuk didirikan secara menetap di atas bukit yang terletak di dusun Lembah Jaya.
Bangunan Sekolah ini juga cukup sederhana yaitu terbuat dari papan dan broti seadanya yang dirancang bentuknya seperti ‘langgar’ atau balai. Barulah kemudian setelah ditetapkan didirikan diatas sebuah bukit, Sekolah ini dibangun dengan empat lokal semi permanen. Adapun mengenai pembiayaannya pembangunan Sekolah ini semua ditanggung oleh masyarakat Lembah Jaya itu sendiri. Proses pengerjaannya dilakukan secara gotong royong sampai semua selesai didirikan dan siap untuk digunakan sebagai tempat proses belajar-mengajar.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian pada latar belakang di atas maka muncul permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana implementasi metode gotong royong berbasis kearifan lokal?
2.      Mengapa metode gotong royong berbasis kearifan lokal dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembangunan Sekolah Dasar di Lembah Jaya?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan:
1.      Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Lembah Jaya.
2.      Penerapan metode gotong royong dalam pembangunan Sekolah Dasar di Lembah Jaya.

D.    Metode Penelitian
Untuk mengungkapkan jawaban atas permasalahan dalam penelitian ini maka digunakan Metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini digunakan metode historis atau metode sejarah. Menurut Daliman (2012: 27), metode sejarah dapat diartikan sebagai metode penelitian dan penulisan sejarah dengan menggunakan cara, prosedur atau teknik yang sistematik sesuai dengan asas-asas dan aturan ilmu sejarah.
Prosedur yang dimaksud dalam definisi di atas adalah langkah-langkah penelitian sejarah yang dimulai dari Heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Heuristik adalah kegiatan mengumpulkan sumber penelitian. Proses ini meliputi wawancara, dokumentasi, pengumpulan arsip-arsip, dan lain sebagainya. Kegiatan ini adalah langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian sejarah. Semua kegiatan Heuristik menghasilkan data.
Setelah semua sumber yang akan dijadikan bahan penelitian telah terkumpul dengan baik, maka langkah kedua adalah kritik. Proses kritik dilakukan dengan menguji validitas sumber yang telah dikumpulkan. Proses kritik dibagi dalam dua jenis, yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik ekstern yaitu upaya verifikasi dalam hal keaslian sumber (autentisitas). Menurut Daliman (2012: 71) “Kritik eksternal lebih menitikberatkan pada uji fisik suatu dokumen”. Kemudian kritik intern  yaitu uji kesahihan sumber (kredibilitas) isi sumber. Robert Jones Shafer (1974) dalam Daliman mengatakan:”Kritik internal lebih menguji makna isi dokumen”. Kegiatan uji kritik atau verifikasi  menghasilkan fakta.
Setelah data dapat disajikan sesuai prosedur sejarah, maka dilakukan langkah ketiga yaitu Interpretasi. Menurut Kuntowijoyo (1995: 100) dalam Dudung Abdurrahman: ”Interpretasi sejarah sering disebut juga dengan analisis sejarah. Dalam hal ini ada dua metode yang digunakan yaitu analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan, sedangkan sintesis berarti menyatukan”. Peneliti menguraikan , menfsirkan fakta-fakta sejarah yang kemudian hasilnya akan disajikan pada langkah Historiografi. Semua proses Interpretasi menghasilkan paparan sejarah atau keterangan penjelasan yang di uraikan.
Langkah terakhir dari metode sejarah adalah Historiografi. Menurut Dudung Abdurrahman (2007: 76):” Historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan”
Dalam penelitian ini ruang lingkup pembahasan tematikalnya adalah berkisar pada proses pertumbuhan masyarakat Lembah Jaya, proses pembangunan Sekolah Dasar, dan kearifan lokal berupa kegotong royongan. Selanjutnya dalam ruang lingkup temporal akan dibahas tahun 1970-2005. Tahun 1970 merupakan awal berdirinya Sekolah Dasar Lembah Jaya. Tahun 2005 merupakan batasan akhir tempo penelitian. Awal munculnya bantuan operasional sekolah untuk Sekolah Dasar. Oleh karena itu batasan penulisan hanya sampai tahun 2005. Sebelum tahun 2005 seluruh operasional sekolah ditanggung oleh masyarakt dalam bentuk pembayaran padi setiap musim panen tiba.  
E.     Pembahasan
1.      Metode Gotong Royong
Metode gotong royong merupakan salah satu alternatif pilihan yang dapat dijalankan dalam rangka upaya meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, terutama masyarakat yang berdomisili di pedalaman. Kesulitan bersama akan akses pendidikan sudah seharusnya dijawab dengan kekompakan dan persatuan masyarakat, yakni pembangunan pendidikan berbasis  swadaya masyarakat sehingga tercipta suatu lembaga pendidikan di masyarakat setempat. Metode gotong royong sebagaimana tersebut merupakan suatu kerja yang dilakukan secara bersama-sama dengan tertata dan teratur, semua anggota masyarakat berdiri pada kewajiban yang sama untuk tujuan bersama.
Metode gotong royong sendiri sudah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. keberadaan gotong royong tidak dapat dilepaskan akan adanya persamaan keperluan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mungkin dapat diselesaikan dengan secara individualis.
Segala sesuatunya dikerjakan dengan mengandalkan kebersamaan, persatuan dan tentunya semua itu diwujudkan dalam bentuk gotong royong. Kegiatan bergotong royong sebenarnya sudah menjadi tradisi disemua daerah di Indonesia. Kegiatan ini sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan bergotong royong. Hal ini sebagaimana kata pepatah yang mengatakan berat sama diangkat, ringan sama dijinjing. Artinya masalah seberat apapun itu tentu saja dapat diselesaikan dengan bersama-sama dan akan terasa lebih ringan. Berbanding terbalik bila segala sesuatu dijalankan dengan secara indivudualisme.
Sebagaimana analogi yang penulis gambarkan sebagai berikut, misalkan ibarat menyapu dengan sebatang lidi, tentu akan berbeda hasilnya bila dilakukan dengan seikat lidi. Sebatang lidi tidak akan mampu menyelesaikan apapun melainkan hanya sedikit dari potensinya, tetapi dengan seikat lidi ia akan lebih berguna untuk kepentingan yang lebih urgen lagi.
Menurut kamus bahasa Indonesia (2008: 498): gotong royong adalah bekerja bersama-sama (tolong-menolong, bantu membantu). Manusia adalah mahluk sosial, oleh karena itu kebersamaan, persatuan dan saling membantu merupakan kebutuhan manusia untuk tetap eksis.
Mengingat pentingnya gotong royong dalam masyarakat, Gurniwan Kamil (1987) menjelaskan secara eksplisit bahwa : Gotong royong sudah tidak dapat dipungkiri lagi sebagai ciri bangsa Indonesia yang turun temurun, sehingga keberadaannya harus dipertahankan. Pola seperti ini merupakan bentuk nyata dari solidaritas mekanik yang terdapat dalam kehidupan masyarakat, sehingga setiap warga yang terlibat di dalamnya memiliki hak untuk dibantu dan berkewajiban untuk membantu, dengan kata lain di dalamnya terdapat azas timbal balik.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dianalis bahwa setiap masyarakat memiliki hak dan kewajiban  yang sama dalam kelompoknya. Dalam konteks kewajiban, setiap anggota masyarakat Memiliki kewajiban untuk bersama-sama mengerjakan sesuatu atau terlibat dalam suatu pekerjaan baik untuk kepentingan umum (bersama) maupun saling membantu  diantara anggota masyarakat. Setelah turut serta mengerjakan kewajiban barulah memiliki hak untuk diperhatikan, dibantu berdasarkan ketentuan gotong royong yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Rochmadi (2012) menjelaskan bahwa: Gotong royong adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, dan merupakan warisan budaya bangsa. Nilai dan perilaku gotong royong bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi pandangan hidup, sehingga tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kehidupannya sehari-hari. Pola hidup yang seperti ini merupakan bentuk nyata dari solidaritas mekanik yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Implementasi nilai dan perilaku gotong royong pada masyarakat Indonesia merupakan bagian esensial dari revitalisasi nilai sosio budaya dan adat istiadat pada masyarakat yang memiliki budaya beragam agar terbebas dari dominasi sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, serta ideologi lain yang tidak mensejahterahkan
Metode gotong royong dalam konteks ini berlaku dalam pembangunan sekolah dasar swasta di Lembah Jaya. Dimana semua anggota masyarakatnya bersatu demi tercapainya kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Kesepakatan bersama dengan menyumbangkan materi berupa uang, kontribusi tenaga dan waktu untuk proses kerja pembangunan sarana pendidikan, bangunan kelas dan tentunya persediaan operasional sekolah. Setelah semua dana terkumpul dari masyarakat, segera dimulai pendirian bangunan yang dikerjakan bersama-sama. Dalam tulisan ini ditegaskan bahwa berdirinya sekolah dasar swasta dilembah jaya adalah berkat kerja keras dan gotong royong masyarakat secara swadaya. Ini membuktikan bahwa metode gotong royong telah membawa hasil yang gemilang sebagaimana  yang diharapkan masyarakat lembah jaya secara umum.
Untuk lebih jelas penulis menyajikan kerangka bentuk-bentuk gotong royong masyarakat lembah jaya era tahun 1970-an. Kegiatan-kegiatan sebagaimana skema ini dikerjakan dengan konsep kegotong royongan sehingga dari proses ini memunculkan daya yang kemudian mengubah wajah kampung lembah jaya menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat di lembah jaya dan beberapa perkampungan di sekelilingnya, terutama pada kegiatan pelaksanaan kegiatan pendidikan.


Skema Kerangka Kegiatan Gotong Royong Di Lembah Jaya Era 1970-An






 














Berdasarkan skema di atas nilai-nilai kearifan lokal sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat Lembah Jaya. Segala kegiatan dikerjakan dengan gotong royong. Misalkan, kegiatan membangun jembatan kampung, rumah ibadah, pembangunan sekolah dasar, jalan kampung, mendirikan rumah masyarakat, dan acara sosial pengumpulan dana ketika anggota masyarakatnya akan mengadakan perta perkawinan yang dinamakan martuppak.
2.      Kearifan Lokal
Membuka kajian mengenai tema kearifan lokal dewasa ini adalah semakin urgen posisinya. Dimana kearifan lokal dipandang sebagai acuan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat yang masif, terlebih lagi setelah satu dasawarsa lebih bangsa Indonesia membuka kran politik dari konsep sentralisasi kepada desentralisasi atau yang lebih populer dengan nama otonomi daerah.
Dengan meluasnya pemberlakuan otonomi daerah, sudah seharusnya  penggalian terhadap kearifan lokal dioptimalkal sebagai salah satu landasan berpikir, bertindak maupun dijadikan suatu landasar yuridis lokal. Setiap  daerah tentu memiliki pijakan tersendiri terkait hal ini. Setiap daerah diharapkan mampu menggali kembali nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat yang telah berlangsung lama dan diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai inilah yang kemudian disebut sebagai kearifan lokal.
 Senada dengan ini dijelaskan melalui kutipan dalam (Anonim, 2009: 7): Kearifan lokal  merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya, yang dapat bersumber dari nilai agama adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat, yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Perilaku yang bersifat umum dan berlaku di masyarakat secara meluas, turun-temurun, akan berkembang menjadi nilai-nilai yang dipegang teguh.
Berdasarkan kutipan diatas nilai-nilai kearifan lokal dapat dirumuskan dari berbagai sistem nilai misalnya nilai agama, nilai adat istiadat, petuah nenek moyang, dan lain sebagainya yang kemudian direpresentasikan menjadi nilai-nilai pegangan hidup bermasyarakat. Ketika posisi kepatuhan masyarakat terhadap nilai tersebut telah mencapai pada titik kulminasi, maka sungguh kearifan lokal tersebut telah dapat memenuhi fungsinya sebagai falsafah hidup bermasyarakat yang berkebudayaan.
Terkait hubungan masyarakat berkebudayaan atau kebudayaan dan kearifan lokal dapat dilakukan dengan pendekatan komparasi definisi. Misalnya, Menurut Achmad Mubarok dalam Burhan Ali Umartha (2013: 49) kebudayaan adalah konsep, keyakinan dan norma yang dianut masyarakat yang mempengaruhi perilaku mereka dalam upaya menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya. Kebudayaan suatu masyarakat diilhami oleh tata alam, tata sosial, iptek dan keyakinan agama.
Berdasarkan definisi diatas dapat ditarik garis kesimpulan bahwa kebudayaan dan kearifan lokal adalah merupakan satu-kesatuan masif yang tidak dapat dipisahkan atau inheren.
Menurut Wagiran dalam jurnal (2011: 1): Kearifan lokal (local wisdom) merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Disamping itu kearifan lokal dapat pula dimaknai sebagai sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang hidup di dalam masyarakat lokal. Karakter khas yang inheren dalam kearifan lokal sifatnya dinamis, kontinu, dan diikat dalam komunitasnya.
Rumusan di atas memberikan ilustrasi tentang pentingnya nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan baik dalam rangka bermasyarakat berbangsa maupun bernegara. Baik dalam suasana kehidupan yang heterogen maupun homogen.
Menurut Reni Nuryanti (2012: 78) : kearifan lokal menjadi wujud pola pemikiran, tingkah laku, sikap dan visi serta misi hidup yang mengandung keagungan. Kearifan lokal merupakan wujud budaya yang terkait dengan suku bangsa tertentu di wilayah nusantara ini. Mereka memiliki budaya sebagai identitas lokal yang menjadi cermin dalam kehidupan.
Berdasarkan hasil observasi penulis ditemukan beberapa nilai-nilai luhur dalam kearifan lokal masyarakat Lembah Jaya yang dapat ditransmisikan kepada generasi selanjutnya sebagai upaya membentuk nilai-nilai karakter masyarakat yang masif. Nilai-nilai itu antara lain: etos kerja, etos pendidikan. Semua poin-poin ini akan diuraikan lebih spesifik dalam sub-sub penjelasan tersendiri. bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terdiri dalam dua bidang yaitu etos pendidikan yang berkembang dengan sangat baik serta didorong  juga oleh tingginya etos kerja masyarakat.  Kesemua bidang tersebut mengerucut pada bidang pendidikan   yang ditandai dengan pendirian sekolah dasar swasta yang kemudian menghasilkan output dalam rangka mencerdaskan kehidupan masyarakat setempat dan sekelilingnya.

a.      Etos kerja
Etos kerja dapat diartikan sebagai pandangan seseorang atau kelompok masyarakat tertentu mengenai pekerjaan atau bagaimana seseorang menempatkan pekerjaan dalam pandangan kehidupan mereka. Dalam hal ini dikaji mengenai etos kerja masyarakat Lembah Jaya, terutama pada era 1970-an. Hal ini penting untuk ditelaah karena etos kerja suatu kelompok masyarakat berbanding lurus dengan kesejahtraan masyarakat itu sendiri. Masyarakat memiliki etos kerja yang tinggi. Hal ini didasarkan pada pertumbuhan dan perkembangan sosial ekonomi perkampungan Lembah Jaya yang menunjukkan fenomena yang positif meningkat. Penulis melakukan survei pada keluarga perintis perkampungan Lembah Jaya yang memiliki etos kerja yang tinggi. Penulis mengambil 15 sampel mewakili 100 kepala keluarga untuk menguji keterkaitan etos kerja dan kesejahteraan. 87%  dari sampel tersebut memiliki catatan peningkatan ekonomi keluarga yang signifikan sebagaimana etos kerja yang mereka miliki. Sisanya 13% juga tidak berada dibawah garis kemiskinan. Secara umum dapat digambarkan setiap keluarga yang memiliki etos kerja yang tinggi akan memiliki tingkat kesejahtraan yang baik pula.

b.       Etos Pendidikan
Etos pendidikan adalah pandangan seseorang atau masyarakat mengenai urgennya suatu pendidikan yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk kongkrit. Etos pendidikan masyarakat dapat dilihat bagaimana masyarakat itu menempatkan pendidikan dalam kehidupan mereka. Masyarakat lembah jaya dalam hal ini memiliki pandangan yang positif terkait hal pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya upaya pembangunan sekolah di perkampungannya yang didirikan dengan swadaya masyarakat sendiri. Dengan segala perjuangannya sekolah tersebut tetap eksis.

3.      Masyarakat Lembah Jaya
Sejarah kedatangan orang-orang Tapanuli ke Lembah Jaya merupakan bagian penting dalam tulisan ini. Kedatangan orang Tapanuli tersebut sangat dilatarbelakangi dengan kondisi perekonomian di daerah asal mereka masing-masing. Habisnya lahan garapan pertanian di Tapanuli mengharuskan mereka hijrah mencari daerah lain yang dapat memberikan peruntungan ekonomi dan kemudian menunjang kehidupan selanjutnya. Berikut petikan wawancara terkait alasan yang melatarbelakangi orang-orang Tapanuli hijrah ke Lembah Jaya, dengan informan yang juga merupakan tokoh masyarakat yang datang pada gelombang pertama, Kobul Harahap:
“Karena lahan di Tapanuli udah enggak ada lagi” (Wawancara tanggal 16 Desember 2014, Pukul 14:01)
Kekurangan lahan pertanian yang subur di daerah asal mereka merupakan alasan secara umum mengapa mereka harus Hijrah. Ditambah lagi ‘merantau’ adalah bagian dari pandangan hidup orang tapanuli. Sehingga antara keterdesakan ekonomi akibat kurangnya lahan pertanian dan falsafah merantau yang mereka anut menjadi satu-kesatuan yang utuh untuk melangsungkan kehidupan di tempat yang baru.
Sebagaimana diketahui bahwa orang Tapanuli adalah tipical penduduk dengan sektor ekonomi agraris. Lokasi yang berbukit-bukit, bahkan didominasi oleh lahan kritis, menjadikan mereka petani yang bekerja keras, ulet dalam menekuni pekerjaan sebagai petani, baik petani sawah, ladang maupun kebun-kebun rakyat di perkampungan. Mereka harus benar-benar dapat memanfaatkan lahan subur yang sedikit harus dimanfaatkan lebih intensif. Sehingga tidaklah mengerankan jika mereka memilih tempat hijrah yang memiliki kondisi geografis agraris juga.
Kondisi geografis Lembah Jaya pada awalnya masih merupakan hutan dan rawa. Ketika itu kondisi lingkungan alamnya masih merupakan rawa-rawa yang ditumbuhi berbagai jenis spesies, mulai dari jenis tumbuhan berbatang tajam keris-kerisan, Lingi, belukar berduri, pandan-pandanan, sampai pada berbagai jenis pohon-pohonan dengan berbagai kelas. Senada dengan hal ini diungkapkan oleh informan, tokoh masyarakat setempat, yaitu Pangeran Siregar:
“Dulu rawa-rawa, kayu besar-besar, jalannya jalan tikus. Lintahnya banyak kali.”(Wawancara tanggal 16 Desember 2014)
Kondisi rawa yang banyak lintah sebagaimana dalam petikan diatas adalah suatu gambaran nyata tentang kondisi rawa yang bahari. Keberadaan lintah-lintah tersebut tentu jelas rawa tersebut masih alami dan belum disentuh oleh manusia sebelumnya. Adapun tekstur alam rawa tersebut kemudian dijadikan sebagai lahan persawahan. Meskipun dalam proses pembukaannya hingga menjadi sawah tumpuan hidup masyarakat memerlukan waktu yang relatif panjang. Disini kesabaran dan harapan dipertaruhkan sebagai bagian dari upaya mempertahankan hidup dan beradaptasi.
Berdasarkan waktunya, gelombang kedatangan orang-orang Tapanuli ke Lembah Jaya dapat dikelompokkan menjadi tiga periode yakni periode pertama dimulai dari tahun 1963-1970, hal ini ditandai dengan awal mula menetapnya migran asal Tapanuli yang terdiri dari tujuh kepala keluarga. Periode pertama ini perkampungan Lembah Jaya masih sangat sepi kondisi jalan utamanya masih merupakan ‘jalan tikus’ atau jalan setapak. Proses pembagian lahan pertanian kepada para pendatang dilakukan pada masa ini. Kehidupan perekonomian keluarga hanya bertumpu pada hasil panen sawah setahun sekali. Akibatnya para kaum lelaki (kepala keluarga) memilih untuk mencari nafkah di luar Lembah Jaya misalnya menjadi kuli deres kebut karet, menjadi nelayan, dan perambah hutan bayaran. Lebih jelas dijabarkan dalam petikan wawancara bersama informan, Kobul Harahap berikut:
kalau kondisi perekonomian orang disini waktu itu pergi keluar mencari makan. macam manderes ke pulau tolu, ke laut mencari ikan. dikampung ini belum ada rambung, belum ada sawit cuma sawah aja untuk padi. dalam setahun bisa bersawah sekali aja. gak bisa dua kali, lantaran orang juga pergi keluar mencari makan. kalau enggak keluar misalnya manderes macammana nanti belanja dirumah terpaksa keluar.(Wawancara tanggal 16 Desember 2014)
Kondisi perekonomian diawal terbentuknya perkampungan Lembah Jaya masih sangat sulit. Tidak ada sektor perekonomian lainnya yang dapat di kelola di daerah baru ini. Maka untuk mencari nafkah keluarga, sebagian besar diantara mereka (kepala keluarga) harus mencari pekerjaan tambahan di luar kampung.
Periode kedua dimulai dari tahun 1971-1980, masa ini merupakan masa pertambahan penduduk. Sejak mulai tahun 1972 gelombang kedatangan penduduk terjadi dengan signifikan. sarana jalan lintas Lembah Jaya-paya ketenggar sudah di bangun meskipun masih dalam kondisi jauh dari laik.
Periode ketiga dimulai dari tahun 1981-1998. Periode ketiga ini ditandai kehidupan ekonomi masyarakat bertumpu pada bidang persawahan, berdagang di pasar pagi kota langsa, dan perladangan berupa kebun karet. barang dagangan yang di jual berupa kangkung sawah, daun ubi, genjer, daun pisang, pakis, dan lain sebagainya. Hasil berdagang tersebut hanya dapat sekedar memenuhi kebutuhan primer keluarga sehari-hari.
Orang orang Tapanuli yang paling awal melakukan Hijrah ke Aceh Timur Lembah Jaya dimulai tahun 1963. Semula hanya tiga kepala keluarga saja yang memulai hidup secara menetap di Lembah Jaya. Hal ini sebagaimana dituturkan salah satu informan, yakni Ibu Nasbah Manik:
“Pertama ayah si Ebit, kedua kami (Arifin Ritonga), ketiga Maknali”(wawancara tanggal 16 Desember 2014, Pukul 15:30)
Tiga kepala keluarga tersebut adalah penghuni awal Lembah Jaya yang berasal dari etnis Batak Tapanuli Selatan. Ayah si Ebit dalam kutipan diatas adalah bapak Ruslan Pohan, kemudian keluarga besar Arifin Ritonga dan keluarga Maknali Harahap. Mulai rentang waktu dari tahun 1963 sampai tahun 1970, total semua ada sembilan kepala keluarga. Bersamaan dengan itu ada juga pendatang dari wilayah aceh sendiri terdiri dari lima kepala keluarga diantaranya Sersan sabi, pak mayor, husin putih, akup putih, pak kopral. Tiga orang diantaranya adalah pensiunan ABRI.
Sebahagian masyarakat Lembah Jaya hanya bergantung pada bidang pertanian yang tidak terlalu baik dikarenakan di daerah ini belum adanya sistem pengairan. Sehingga petani hanya mengolah sawahnya satu kali dalam setahun. Sebagian lainnya hanya mengandalkan hasil dari menjual sayur-mayur berupa kangkung, genjer, daun ubi, daun pisang, pakis dan lain sebagainya yang juga tidak terlalu menguntungkan. Hasil-hasil seperti ini hanya bisa memberikan sekedar penghidupan seadanya saja untuk setiap hari.
Dalam kehidupan sosial masyarakat lembah diawalnya ada hal yang sangat menarik sebagai bagian dari konsep kearifan local (Local Wisdem) yang dapat diterima oleh semua masyarakat, yaitu gotong royong. Semua kegiatan sosial dilakukan dengan bergotong royong misalnya kegiatan saling membantu dalam mengerjakan  sawah dengan gotong royong disebut maralapari.
Kegiatan maralapari ini dikerjakan oleh seluruh warga kampung Lembah Jaya, mekanismenya sebagai berikut: misalkan mengerjakan sawah si A ditentukan hari senin, maka semua warga akan datang bergotong royong (maralapari) dihari yang ditentukan tersebut biasanya seluruh sawah milik si A akan selesai dalam satu hari itu juga karena orang yang mengerjakannya juga banyak.  selanjutnya hari selasa kegiatan dipindahkan ke lahan sawah si B, hari rabu di lahan si C dan seterusnya sampai semua sawah anggota masyarakat selesai sesuai gilirannya.
Kegiatan bergotong royong bukan hanya pada pengerjaan sawah saja, misalnya dalam pendirian rumah, jalan, jembatan, penggalian parit dan lain sebagainya dilakukan dengan bergotong royong.

4.      Sekolah Dasar Swasta Di Lembah Jaya

Tahun 1970 masyarakat Lembah jaya mendirikan sekolah dasar swasta. Upaya pendirian sekolah ini dilatarbelakangi sulitnya akses pendidikan yang dapat dikangkau oleh masyarakat setempat. Hal ini senada dengan ungkapan tokoh perintis sekolah dasar di Lembah Jaya yang juga informan, Kobul Harahap mengatakan bahwa
”...lantaran begini banyak anak-anak dibawak dari kampung semua kekmana pendidikan anak ini sekolah. Kalau dibikin nanti ke alur morbo atau ke tualang siapa kawan anak-anak siapa mengantarnya. Masa itu sd Pandan Sari belum ada” (wawancara 16 Desember 2014 Pukul; 14:01)
Berdasarkan kutipan di atas dapat dianalisis bahwa bersamaan hijrahnya orang-orang tapanuli di lembah jaya, setiap keluarga turut membawa anak-anak mereka yang telah memasuki usia wajib bersekolah, persoalan muncul ketika akan menyekolahkan anak-anak mereka. Tidak ada sekolah yang dapat dijangkau dengan mudah.  Sekolah Dasar terdekat dari perkampungan Lembah Jaya berada sekitar 15 kilometer yakni sekolah dasar di Aluer Merbau. Jarak yang jauh dan kondisi jalan  yang tidak laik mendorong masyarakat mengambil keputusan terpenting dalam sejarah kehidupan mereka, yakni mendirikan sekolah dasar swasta di Lembah Jaya.
Terkait pendirian dan pembangunan sekolah dasar tersebut  seorang informan, Pangeran Siregar  menuturkan bahwa:
Pembangunan sekolah dilakukan secara gotong royong. Bapak-bapak, omak-omak, anak lajang gadis ikut juga membantu. Di atas bukit itu mereka masak-masak untuk orang yang membangun sekolah. Semua membantu baik yang muhammadiyah maupun yang tidak muhammadiyah. Jarak tempat penggergajian kayu dengan lokasi sekolah ada yang berjarak empat kilmeter, ada juga yang lima kilometer. Tempatnya tidak sama karena enggak cukup kayunya waktu itu. mengangkatnya wakitu itu dijujung di pikuljuga.kalau mamak-mamak dia jujung selembar papan. Waktu untuk mengangkatnya lebih sebulan baru siap. (wawancara 16 Desember, Pukul 11:10 Wib)
Berdasarkan kutipan di atas jelaslah bahwa proses pembangunan sekolah dasar swasta Lembah jaya dilakukan dengan metode gotong royong. Semua anggota masyarakat baik dari kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan pemudi turut serta berpartisifasi untuk mensukseskan pendirian dan pembangunan sekolah. Sekolah dasar ini merupakan representasi dari kekompakan yang masif dan kegotong royongan masyarakat Lembah Jaya.
Untuk kelancaran operasional sekolah ini hanya mengandalkan kontribusi dari masyarakat dan wali siswa. Sekali lagi metode gotong royong juga berlaku untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah ini. Hal ini senada dengan pernyataan informan, nasbah manik:”biayanya dari pembayaran padi siswa itu” (wawancara tanggal 16 Desember 2014, Pukul 15:30)


Untuk lebih jelas mengenai biaya operasional sekolah dasar  ini,  dituturkan oleh informan, pangeran siregar:
Kalau satu anak bayarnya tiga kaleng padi, dua anak enam kaleng padi, tiga anak sembilan kaleng padi, empat anak pun tetap sembilan kaleng padi. (wawancara 16 Desember, Pukul 11:10 Wib)
Berdasarkan petikan di atas jelas sekali bahwa pemenuhan biaya operasional sekolah hanya mengandalkan dari padi yang dibayarkan oleh siswa setiap musim panen. Selain dari pada itu diadakan pula ‘Sawah Muhammadiyah’ maksudnya sawah yang dikelola secara gotong royong yang hasilnya kemudian digunakan untuk operasional sekolah atau kas sekolah. Hal ini senada dengan ungkapan nasbah manik
Ada di buat sawah kira-kira sepuluh rante gitu, sawah ini dikerjajakan secara gotong royong, nanti hasilnya disimpan di lumbung dekat mesjid. Kalau sekolah perlu-perlu biaya, dijual beberapa goni sesuai keperluannya. (wawancara tanggal 16 Desember 2014, Pukul 15:30)

F.     Kesimpulan
Berdasarkan anasilis pada semua poin dalam tulisan ini, disimpulkan bahwa:
1.      Metode gotong royong berbasis kearifan lokal adalah suatu metode kerja sosial yang mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, persatuan, partisifasi setiap anggota masyarakat dalam menjawab tantangan, permasalahan sosial dan kesulitan lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama.
2.      Metode gotong royong berbasis kearifan lokal memiliki keunggulan positif, yakni:
a.       Memperteguh kekompakan dan persatuan masyarakat, sehingga masyarakat senantiasa dapat menyelesaikan sesuatu permasalahan dan kesulitan hidup bermasyarakat.
b.      Mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
c.       Mengedepankan kekeluargaan dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.






DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Dudung, 2007, Metode Penelitian Sejarah, Ar-Ruz Media, Jogjakarta
Anonim, 2009, Kearifan Lokal Dalam Perencanaan Dan Perancangan Kota Untuk Mewujudkan Arsitektur Kota Yang Berkelanjutan, Universitas Merdeka Malang: Malang
Anonim, 2008, Kamus Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta
Burhan Alu Umartha, 2013, Membangun Karakter Masyarakat Aceh Menyikapi Kehidupan Global, Badan Arsip Dan Perpustakaan Aceh: Banda Aceh
Daliman, 2012, Metode Penelitian Sejarah, Ombak: Jogjakarta
Gurniwan Kamil Pasya, “Jurnal Gotong Royong Dalam Kehidupan Masyarakat” Prisma No. 3 Th 1987, Bandung: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia, 1987
Reni Nuryanti, “Metode Strength, Weakness, Opportunity, And Treaths (SWOT) Berbasis Kearifan Lokal Untuk Menjaga Potensi Maritim” Jurnal Samudra Vol 4 No. 6 September-Desember 2012, Langsa; Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samudra, 2012
Rochmadi, “Menjadikan Nilai Budaya Gotong Royong Sebagai Common Identity Dalam Kehidupan Bertetangga Negara-Negara Asean” Repository Perpustakaan Universitas Negeri Malang. 20/11/2012 9:40, Malang: Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, 2012
Wagiran,”Jurnal 1 Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal Dalam Mendukung Visi Pembangunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2020 (Tahun Kedua)”Jurnal Penelitian Dan Pengembangan, Volume III, Nomor 3, ISSN 2085-9678. Hlm. 85-100, Jogjakarta: Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, 2011.

Informan 1      : Pangeran Siregar
Informan 2      : Kobul Harahap
Informan 3      : Nasbah Manik

Diselesaikan 4 januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar