METODE GOTONG ROYONG BERBASIS
KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBANGUNAN SEKOLAH DASAR SWASTA DI LEMBAH JAYA
Irfan Dame, S. Pd
PenulisLangsa@Gmail.com
Abstrak
Tulisan ini
mengkaji tentang nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Lembah Jaya, sejarah
pendirian dan perkembangan sekolah dasar swasta di Lembah Jaya sebagai
perwujudan nilai-nilai kearifan lokal yang direpresentasikan melalui kegotong
royongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah
(historis) dengan langkah-langkah yang dimulai dari Heuristik, Kritik,
Interpretasi dan historiografi. Dalam penelitian ini penulis menemukan adanya Upaya
untuk mengentaskan kebodohan dan meningkatkan taraf pendidikan melalui proses pendirian
sekolah dasar swasta di Lembah Jaya.
Keterbatasan akses, keterbatasan ekonomi,
keterbatasan sarana dan non sarana lainnya tidak menjadikan masyarakat Lembah
Jaya pasif. Segala hambatan-hambatan pendidikan dientaskan dengan bergotong
royong. Sehingga persatuan dan kegotong royongan menjadi power tersendiri bagi masyarakat
untuk membangun Sekolah Dasar di Lembah Jaya.
Kata Kunci: Metode Gotong Royong, Kearifan Lokal, Masyarakat Lembah Jaya, Sekolah Dasar Swasta Lembah Jaya.
A.
Pendahuluan
Pendidikan adalah kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar sehingga
manusia tidaklah dapat berkehidupan dengan baik tertata tanpa suatu pendidikan
yang layak pula. Antara kedua hal diatas tentu tidak dapat dipisahkan karena
keduanya merupakan rumusan natural yang bersifat mengikat adanya. Pendidikan
akan membentuk karakter suatu bangsa, artinya
taraf pendidikan suatu bangsa berbanding lurus dengan kepribadian bangsa
itu sendiri. Pendidikan juga membangkitkan kemajuan segala bidang kehidupan
suatu bangsa. Baik dalam bidang sosial,
ekonomi, politik maupun dalam bidang lainnya. Maka daripada itu, tentulah
rumusan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam uud 1945 harus menjadi
acuan utama pendidikan bangsa Indonesia.
Sejalan dengan hal ini, penegasan dalam UU No 2
tahun 1985 tentang tujuan pendidikan nasional yaitu, mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang seutuhnya yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan.
Tentu tidak mudah mewujudkan Tujuan pendidikan Indonesia
sebagaimana tercantum di atas. Tentu hal tersebut hanya dapat tercapai dengan
baik apabila pemerataan pendidikan sudah tertata dengan baik sampai ke
pelosok-pelosok, manajemen pendidikan yang tepat dan efektif dan komponen
pendidikan baik.
Pembangunan pendidikan, lembaga pendidikan, maupun
sarana penunjang pendidikan lainnya secara umum di Indonesia masih menjadi
permasalahan serius era tahun 1970-an. Persoalan yang kompleks dalam
perkembangan pendidikan Indonesia, dimulai dari minimnya pembangunan lembaga
sekolah (pemerataan pendidikan) terutama di pedalaman, minimnya fasilitas
belajar, minimnya pengembangan sarana belajar yang efektif. Akibatnya masih
terjadi kesulitan-kesulitan pencapaian tujuan pendidikan secara umum di
Indonesia.
Salah satu wilayah yang terdampak akibat kurangnya
pemerataan pendidikan era tahun 1970-an adalah Kabupaten Aceh Timur. Dalam hal
ini masyarakat Lembah Jaya. Tidak ada lembaga pendidikan di daerah ini, padahal
wilayah ini hanya berjarak 15 kilometer dari ibukota kabupaten Aceh Timur,
Langsa.
Perbandingan jumlah lembaga pendidikan dan luas
wilayah serta jumlah penduduk aceh timur itu sendiri memiliki perbandingan yang
tidak seimbang. Akibatnya muncul ketidakmerataan pendidikan. Apalagi Lokasi
yang jauh dari Sekolah dan medan yang sulit seringkali membuat masyarakat berkesimpulan
untuk tidak melanjutkan pendidikan anak-anak mereka karena untuk hal itu tentu membutuhkan
dana yang tidak sedikit untuk ukuran mereka saat itu.
Sekolah Dasar terdekat dari Lembah Jaya berjarak
sekitar 10 kilometer yaitu Sekolah Dasar di Alue Merbau. Jarak sejauh itu
dipersulit lagi dengan kondisi medan jalan yang tidak laik. Dampaknya kondisi
seperti ini sangat dirasakan karena generasi masyarakat disekitar ini sangat
kesulitan untuk mengakses pendidikan di semua jenjang.
Untuk memutus kesulitan-kesulitan pendidikan di atas
masyarakat Lembah Jaya berupaya dengan segala daya untuk membangun lembaga
pendidikan tingkat Sekolah Dasar. Meskipun dengan kondisi perekonomian
masyarakat berada pada titik terlemah dalam sejarah masyarakat Lembah Jaya.
Sekolah Dasar swasta di Lembah Jaya memiliki
keunikan tersendiri dalam sejarah pembangunannya. Proses perintisan pembangunan
Sekolah ini sudah dimulai dari tahun 1970. Beberapa kali Sekolah non permanen
ini mengalami perpindahan tempat, sebelum akhirnya Sekolah ini disepakati untuk
didirikan secara menetap di atas bukit yang terletak di dusun Lembah Jaya.
Bangunan Sekolah ini juga cukup sederhana yaitu
terbuat dari papan dan broti seadanya yang dirancang bentuknya seperti ‘langgar’ atau balai. Barulah kemudian
setelah ditetapkan didirikan diatas sebuah bukit, Sekolah ini dibangun dengan
empat lokal semi permanen. Adapun mengenai pembiayaannya pembangunan Sekolah
ini semua ditanggung oleh masyarakat Lembah Jaya itu sendiri. Proses
pengerjaannya dilakukan secara gotong royong sampai semua selesai didirikan dan
siap untuk digunakan sebagai tempat proses belajar-mengajar.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian pada latar belakang di atas
maka muncul permasalahan sebagai berikut:
1.
Bagaimana implementasi
metode gotong royong berbasis kearifan lokal?
2.
Mengapa metode
gotong royong berbasis kearifan lokal dapat dijadikan sebagai alternatif dalam
pembangunan Sekolah Dasar di Lembah Jaya?
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan:
1.
Nilai-nilai kearifan
lokal masyarakat Lembah Jaya.
2.
Penerapan metode
gotong royong dalam pembangunan Sekolah Dasar di Lembah Jaya.
D.
Metode Penelitian
Untuk mengungkapkan jawaban atas permasalahan dalam
penelitian ini maka digunakan Metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi
permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini digunakan metode historis
atau metode sejarah. Menurut Daliman (2012: 27), metode sejarah dapat diartikan
sebagai metode penelitian dan penulisan sejarah dengan menggunakan cara,
prosedur atau teknik yang sistematik sesuai dengan asas-asas dan aturan ilmu
sejarah.
Prosedur yang dimaksud dalam definisi di atas adalah
langkah-langkah penelitian sejarah yang dimulai dari Heuristik, kritik,
interpretasi dan historiografi. Heuristik
adalah kegiatan mengumpulkan sumber penelitian. Proses ini meliputi wawancara,
dokumentasi, pengumpulan arsip-arsip, dan lain sebagainya. Kegiatan ini adalah
langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian sejarah. Semua kegiatan
Heuristik menghasilkan data.
Setelah semua sumber yang akan dijadikan bahan penelitian
telah terkumpul dengan baik, maka langkah kedua adalah kritik. Proses kritik dilakukan dengan menguji validitas sumber
yang telah dikumpulkan. Proses kritik dibagi dalam dua jenis, yaitu kritik
intern dan kritik ekstern. Kritik ekstern yaitu upaya verifikasi dalam hal
keaslian sumber (autentisitas). Menurut Daliman (2012: 71) “Kritik eksternal
lebih menitikberatkan pada uji fisik suatu dokumen”. Kemudian kritik
intern yaitu uji kesahihan sumber
(kredibilitas) isi sumber. Robert Jones Shafer (1974) dalam Daliman
mengatakan:”Kritik internal lebih menguji makna isi dokumen”. Kegiatan uji
kritik atau verifikasi menghasilkan
fakta.
Setelah data dapat disajikan sesuai prosedur
sejarah, maka dilakukan langkah ketiga yaitu Interpretasi. Menurut Kuntowijoyo
(1995: 100) dalam Dudung Abdurrahman: ”Interpretasi sejarah sering disebut juga
dengan analisis sejarah. Dalam hal ini ada dua metode yang digunakan yaitu
analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan, sedangkan sintesis berarti
menyatukan”. Peneliti menguraikan , menfsirkan fakta-fakta sejarah yang
kemudian hasilnya akan disajikan pada langkah Historiografi. Semua proses
Interpretasi menghasilkan paparan sejarah atau keterangan penjelasan yang di
uraikan.
Langkah terakhir dari metode sejarah adalah
Historiografi. Menurut Dudung Abdurrahman (2007: 76):” Historiografi merupakan
cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah
dilakukan”
Dalam penelitian ini ruang lingkup pembahasan
tematikalnya adalah berkisar pada proses pertumbuhan masyarakat Lembah Jaya,
proses pembangunan Sekolah Dasar, dan kearifan lokal berupa kegotong royongan.
Selanjutnya dalam ruang lingkup temporal akan dibahas tahun 1970-2005. Tahun
1970 merupakan awal berdirinya Sekolah Dasar Lembah Jaya. Tahun 2005 merupakan batasan
akhir tempo penelitian. Awal munculnya bantuan operasional sekolah untuk Sekolah
Dasar. Oleh karena itu batasan penulisan hanya sampai tahun 2005. Sebelum tahun
2005 seluruh operasional sekolah ditanggung oleh masyarakt dalam bentuk
pembayaran padi setiap musim panen tiba.
E.
Pembahasan
1.
Metode Gotong Royong
Metode
gotong royong merupakan salah satu alternatif pilihan yang dapat dijalankan
dalam rangka upaya meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, terutama
masyarakat yang berdomisili di pedalaman. Kesulitan bersama akan akses
pendidikan sudah seharusnya dijawab dengan kekompakan dan persatuan masyarakat,
yakni pembangunan pendidikan berbasis
swadaya masyarakat sehingga tercipta suatu lembaga pendidikan di
masyarakat setempat. Metode gotong royong sebagaimana tersebut merupakan suatu
kerja yang dilakukan secara bersama-sama dengan tertata dan teratur, semua
anggota masyarakat berdiri pada kewajiban yang sama untuk tujuan bersama.
Metode
gotong royong sendiri sudah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia
secara umum. keberadaan gotong royong tidak dapat dilepaskan akan adanya
persamaan keperluan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mungkin dapat
diselesaikan dengan secara individualis.
Segala
sesuatunya dikerjakan dengan mengandalkan kebersamaan, persatuan dan tentunya
semua itu diwujudkan dalam bentuk gotong royong. Kegiatan bergotong royong
sebenarnya sudah menjadi tradisi disemua daerah di Indonesia. Kegiatan ini
sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Tidak
ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan bergotong royong. Hal ini
sebagaimana kata pepatah yang mengatakan berat sama diangkat, ringan sama
dijinjing. Artinya masalah seberat apapun itu tentu saja dapat diselesaikan
dengan bersama-sama dan akan terasa lebih ringan. Berbanding terbalik bila segala
sesuatu dijalankan dengan secara indivudualisme.
Sebagaimana
analogi yang penulis gambarkan sebagai berikut, misalkan ibarat menyapu dengan
sebatang lidi, tentu akan berbeda hasilnya bila dilakukan dengan seikat lidi.
Sebatang lidi tidak akan mampu menyelesaikan apapun melainkan hanya sedikit
dari potensinya, tetapi dengan seikat lidi ia akan lebih berguna untuk
kepentingan yang lebih urgen lagi.
Menurut
kamus bahasa Indonesia (2008: 498): gotong royong adalah bekerja bersama-sama
(tolong-menolong, bantu membantu). Manusia adalah mahluk sosial, oleh karena
itu kebersamaan, persatuan dan saling membantu merupakan kebutuhan manusia
untuk tetap eksis.
Mengingat
pentingnya gotong royong dalam masyarakat, Gurniwan Kamil (1987) menjelaskan
secara eksplisit bahwa : Gotong royong sudah tidak dapat dipungkiri lagi
sebagai ciri bangsa Indonesia yang turun temurun, sehingga keberadaannya harus
dipertahankan. Pola seperti ini merupakan bentuk nyata dari solidaritas mekanik
yang terdapat dalam kehidupan masyarakat, sehingga setiap warga yang terlibat
di dalamnya memiliki hak untuk dibantu dan berkewajiban untuk membantu, dengan
kata lain di dalamnya terdapat azas timbal balik.
Berdasarkan
penjelasan di atas dapat dianalis bahwa setiap masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kelompoknya. Dalam konteks
kewajiban, setiap anggota masyarakat Memiliki kewajiban untuk bersama-sama
mengerjakan sesuatu atau terlibat dalam suatu pekerjaan baik untuk kepentingan
umum (bersama) maupun saling membantu
diantara anggota masyarakat. Setelah turut serta mengerjakan kewajiban
barulah memiliki hak untuk diperhatikan, dibantu berdasarkan ketentuan gotong
royong yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Rochmadi
(2012) menjelaskan bahwa: Gotong royong adalah bagian dari kehidupan masyarakat
Indonesia, dan merupakan warisan budaya bangsa. Nilai dan perilaku gotong
royong bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi pandangan hidup, sehingga tidak
bisa dipisahkan dari aktivitas kehidupannya sehari-hari. Pola hidup yang
seperti ini merupakan bentuk nyata dari solidaritas mekanik yang terdapat dalam
kehidupan masyarakat Indonesia. Implementasi nilai dan perilaku gotong royong
pada masyarakat Indonesia merupakan bagian esensial dari revitalisasi nilai
sosio budaya dan adat istiadat pada masyarakat yang memiliki budaya beragam
agar terbebas dari dominasi sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan,
serta ideologi lain yang tidak mensejahterahkan
Metode
gotong royong dalam konteks ini berlaku dalam pembangunan sekolah dasar swasta
di Lembah Jaya. Dimana semua anggota masyarakatnya bersatu demi tercapainya
kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Kesepakatan bersama dengan menyumbangkan
materi berupa uang, kontribusi tenaga dan waktu untuk proses kerja pembangunan
sarana pendidikan, bangunan kelas dan tentunya persediaan operasional sekolah. Setelah
semua dana terkumpul dari masyarakat, segera dimulai pendirian bangunan yang
dikerjakan bersama-sama. Dalam tulisan ini ditegaskan bahwa berdirinya sekolah
dasar swasta dilembah jaya adalah berkat kerja keras dan gotong royong
masyarakat secara swadaya. Ini membuktikan bahwa metode gotong royong telah
membawa hasil yang gemilang sebagaimana
yang diharapkan masyarakat lembah jaya secara umum.
Untuk
lebih jelas penulis menyajikan kerangka bentuk-bentuk gotong royong masyarakat
lembah jaya era tahun 1970-an. Kegiatan-kegiatan sebagaimana skema ini
dikerjakan dengan konsep kegotong royongan sehingga dari proses ini memunculkan
daya yang kemudian mengubah wajah kampung lembah jaya menjadi salah satu pusat
kegiatan masyarakat di lembah jaya dan beberapa perkampungan di sekelilingnya,
terutama pada kegiatan pelaksanaan kegiatan pendidikan.
Skema Kerangka
Kegiatan Gotong Royong Di Lembah Jaya Era 1970-An
![]() |
Berdasarkan
skema di atas nilai-nilai kearifan lokal sangat berperan penting dalam
kehidupan masyarakat Lembah Jaya. Segala kegiatan dikerjakan dengan gotong
royong. Misalkan, kegiatan membangun jembatan kampung, rumah ibadah,
pembangunan sekolah dasar, jalan kampung, mendirikan rumah masyarakat, dan
acara sosial pengumpulan dana ketika anggota masyarakatnya akan mengadakan
perta perkawinan yang dinamakan martuppak.
2.
Kearifan Lokal
Membuka
kajian mengenai tema kearifan lokal dewasa ini adalah semakin urgen posisinya. Dimana
kearifan lokal dipandang sebagai acuan nilai-nilai dalam kehidupan
bermasyarakat yang masif, terlebih lagi setelah satu dasawarsa lebih bangsa
Indonesia membuka kran politik dari konsep sentralisasi kepada desentralisasi
atau yang lebih populer dengan nama otonomi daerah.
Dengan
meluasnya pemberlakuan otonomi daerah, sudah seharusnya penggalian terhadap kearifan lokal
dioptimalkal sebagai salah satu landasan berpikir, bertindak maupun dijadikan
suatu landasar yuridis lokal. Setiap
daerah tentu memiliki pijakan tersendiri terkait hal ini. Setiap daerah
diharapkan mampu menggali kembali nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat
yang telah berlangsung lama dan diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai
inilah yang kemudian disebut sebagai kearifan lokal.
Senada dengan ini dijelaskan melalui kutipan
dalam (Anonim, 2009: 7): Kearifan lokal merupakan perilaku positif manusia dalam
berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya, yang dapat bersumber dari
nilai agama adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat, yang
terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi
dengan lingkungan di sekitarnya. Perilaku yang bersifat umum dan berlaku di
masyarakat secara meluas, turun-temurun, akan berkembang menjadi nilai-nilai
yang dipegang teguh.
Berdasarkan
kutipan diatas nilai-nilai kearifan lokal dapat dirumuskan dari berbagai sistem
nilai misalnya nilai agama, nilai adat istiadat, petuah nenek moyang, dan lain
sebagainya yang kemudian direpresentasikan menjadi nilai-nilai pegangan hidup
bermasyarakat. Ketika posisi kepatuhan masyarakat terhadap nilai tersebut telah
mencapai pada titik kulminasi, maka sungguh kearifan lokal tersebut telah dapat
memenuhi fungsinya sebagai falsafah hidup bermasyarakat yang berkebudayaan.
Terkait
hubungan masyarakat berkebudayaan atau kebudayaan dan kearifan lokal dapat
dilakukan dengan pendekatan komparasi definisi. Misalnya, Menurut Achmad Mubarok
dalam Burhan Ali Umartha (2013: 49) kebudayaan adalah konsep, keyakinan dan
norma yang dianut masyarakat yang mempengaruhi perilaku mereka dalam upaya
menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya. Kebudayaan
suatu masyarakat diilhami oleh tata alam, tata sosial, iptek dan keyakinan
agama.
Berdasarkan
definisi diatas dapat ditarik garis kesimpulan bahwa kebudayaan dan kearifan
lokal adalah merupakan satu-kesatuan masif yang tidak dapat dipisahkan atau
inheren.
Menurut
Wagiran dalam jurnal (2011: 1): Kearifan lokal (local wisdom) merupakan
pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi kehidupan yang
berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menjawab
berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Disamping itu kearifan lokal
dapat pula dimaknai sebagai sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial,
politik, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang hidup di dalam masyarakat lokal.
Karakter khas yang inheren dalam kearifan lokal sifatnya dinamis, kontinu, dan
diikat dalam komunitasnya.
Rumusan
di atas memberikan ilustrasi tentang pentingnya nilai-nilai kearifan lokal
dalam kehidupan baik dalam rangka bermasyarakat berbangsa maupun bernegara.
Baik dalam suasana kehidupan yang heterogen maupun homogen.
Menurut
Reni Nuryanti (2012: 78) : kearifan lokal menjadi wujud pola pemikiran, tingkah
laku, sikap dan visi serta misi hidup yang mengandung keagungan. Kearifan lokal
merupakan wujud budaya yang terkait dengan suku bangsa tertentu di wilayah
nusantara ini. Mereka memiliki budaya sebagai identitas lokal yang menjadi
cermin dalam kehidupan.
Berdasarkan
hasil observasi penulis ditemukan beberapa nilai-nilai luhur dalam kearifan
lokal masyarakat Lembah Jaya yang dapat ditransmisikan kepada generasi
selanjutnya sebagai upaya membentuk nilai-nilai karakter masyarakat yang masif.
Nilai-nilai itu antara lain: etos kerja, etos pendidikan. Semua poin-poin ini
akan diuraikan lebih spesifik dalam sub-sub penjelasan tersendiri. bahwa
nilai-nilai kearifan lokal yang terdiri dalam dua bidang yaitu etos pendidikan
yang berkembang dengan sangat baik serta didorong juga oleh tingginya etos kerja
masyarakat. Kesemua bidang tersebut
mengerucut pada bidang pendidikan yang
ditandai dengan pendirian sekolah dasar swasta yang kemudian menghasilkan
output dalam rangka mencerdaskan kehidupan masyarakat setempat dan
sekelilingnya.
a.
Etos kerja
Etos
kerja dapat diartikan sebagai pandangan seseorang atau kelompok masyarakat
tertentu mengenai pekerjaan atau bagaimana seseorang menempatkan pekerjaan
dalam pandangan kehidupan mereka. Dalam hal ini dikaji mengenai etos kerja
masyarakat Lembah Jaya, terutama pada era 1970-an. Hal ini penting untuk
ditelaah karena etos kerja suatu kelompok masyarakat berbanding lurus dengan kesejahtraan
masyarakat itu sendiri. Masyarakat memiliki etos kerja yang tinggi. Hal ini
didasarkan pada pertumbuhan dan perkembangan sosial ekonomi perkampungan Lembah
Jaya yang menunjukkan fenomena yang positif meningkat. Penulis melakukan survei
pada keluarga perintis perkampungan Lembah Jaya yang memiliki etos kerja yang
tinggi. Penulis mengambil 15 sampel mewakili 100 kepala keluarga untuk menguji
keterkaitan etos kerja dan kesejahteraan. 87% dari sampel tersebut memiliki catatan peningkatan
ekonomi keluarga yang signifikan sebagaimana etos kerja yang mereka miliki.
Sisanya 13% juga tidak berada dibawah garis kemiskinan. Secara umum dapat
digambarkan setiap keluarga yang memiliki etos kerja yang tinggi akan memiliki
tingkat kesejahtraan yang baik pula.
b.
Etos Pendidikan
Etos
pendidikan adalah pandangan seseorang atau masyarakat mengenai urgennya suatu
pendidikan yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk kongkrit. Etos
pendidikan masyarakat dapat dilihat bagaimana masyarakat itu menempatkan
pendidikan dalam kehidupan mereka. Masyarakat lembah jaya dalam hal ini
memiliki pandangan yang positif terkait hal pendidikan. Hal ini dibuktikan
dengan adanya upaya pembangunan sekolah di perkampungannya yang didirikan
dengan swadaya masyarakat sendiri. Dengan segala perjuangannya sekolah tersebut
tetap eksis.
3.
Masyarakat Lembah Jaya
Sejarah kedatangan orang-orang Tapanuli ke Lembah
Jaya merupakan bagian penting dalam tulisan ini. Kedatangan orang Tapanuli
tersebut sangat dilatarbelakangi dengan kondisi perekonomian di daerah asal
mereka masing-masing. Habisnya lahan garapan pertanian di Tapanuli mengharuskan
mereka hijrah mencari daerah lain yang dapat memberikan peruntungan ekonomi dan
kemudian menunjang kehidupan selanjutnya. Berikut petikan wawancara terkait
alasan yang melatarbelakangi orang-orang Tapanuli hijrah ke Lembah Jaya, dengan
informan yang juga merupakan tokoh masyarakat yang datang pada gelombang
pertama, Kobul Harahap:
“Karena
lahan di Tapanuli udah enggak ada lagi” (Wawancara tanggal 16 Desember 2014,
Pukul 14:01)
Kekurangan lahan pertanian yang subur di daerah asal
mereka merupakan alasan secara umum mengapa mereka harus Hijrah. Ditambah lagi
‘merantau’ adalah bagian dari pandangan hidup orang tapanuli. Sehingga antara
keterdesakan ekonomi akibat kurangnya lahan pertanian dan falsafah merantau
yang mereka anut menjadi satu-kesatuan yang utuh untuk melangsungkan kehidupan
di tempat yang baru.
Sebagaimana diketahui bahwa orang Tapanuli adalah
tipical penduduk dengan sektor ekonomi agraris. Lokasi yang berbukit-bukit,
bahkan didominasi oleh lahan kritis, menjadikan mereka petani yang bekerja
keras, ulet dalam menekuni pekerjaan sebagai petani, baik petani sawah, ladang
maupun kebun-kebun rakyat di perkampungan. Mereka harus benar-benar dapat
memanfaatkan lahan subur yang sedikit harus dimanfaatkan lebih intensif. Sehingga
tidaklah mengerankan jika mereka memilih tempat hijrah yang memiliki kondisi
geografis agraris juga.
Kondisi geografis Lembah Jaya pada awalnya masih
merupakan hutan dan rawa. Ketika itu kondisi lingkungan alamnya masih merupakan
rawa-rawa yang ditumbuhi berbagai jenis spesies, mulai dari jenis tumbuhan
berbatang tajam keris-kerisan, Lingi, belukar berduri, pandan-pandanan, sampai
pada berbagai jenis pohon-pohonan dengan berbagai kelas. Senada dengan hal ini
diungkapkan oleh informan, tokoh masyarakat setempat, yaitu Pangeran Siregar:
“Dulu rawa-rawa, kayu besar-besar, jalannya jalan
tikus. Lintahnya banyak kali.”(Wawancara tanggal 16 Desember 2014)
Kondisi rawa yang banyak lintah sebagaimana dalam
petikan diatas adalah suatu gambaran nyata tentang kondisi rawa yang bahari.
Keberadaan lintah-lintah tersebut tentu jelas rawa tersebut masih alami dan
belum disentuh oleh manusia sebelumnya. Adapun tekstur alam rawa tersebut
kemudian dijadikan sebagai lahan persawahan. Meskipun dalam proses pembukaannya
hingga menjadi sawah tumpuan hidup masyarakat memerlukan waktu yang relatif
panjang. Disini kesabaran dan harapan dipertaruhkan sebagai bagian dari upaya
mempertahankan hidup dan beradaptasi.
Berdasarkan waktunya, gelombang kedatangan
orang-orang Tapanuli ke Lembah Jaya dapat dikelompokkan menjadi tiga periode
yakni periode pertama dimulai dari tahun 1963-1970, hal ini ditandai dengan
awal mula menetapnya migran asal Tapanuli yang terdiri dari tujuh kepala
keluarga. Periode pertama ini perkampungan Lembah Jaya masih sangat sepi
kondisi jalan utamanya masih merupakan ‘jalan tikus’ atau jalan setapak. Proses
pembagian lahan pertanian kepada para pendatang dilakukan pada masa ini.
Kehidupan perekonomian keluarga hanya bertumpu pada hasil panen sawah setahun
sekali. Akibatnya para kaum lelaki (kepala keluarga) memilih untuk mencari
nafkah di luar Lembah Jaya misalnya menjadi kuli deres kebut karet, menjadi
nelayan, dan perambah hutan bayaran. Lebih jelas dijabarkan dalam petikan
wawancara bersama informan, Kobul Harahap berikut:
“kalau kondisi
perekonomian orang disini waktu itu pergi keluar mencari makan. macam manderes
ke pulau tolu, ke laut mencari ikan. dikampung ini belum ada rambung, belum ada
sawit cuma sawah aja untuk padi. dalam setahun bisa bersawah sekali aja. gak bisa
dua kali, lantaran orang juga pergi keluar mencari makan. kalau enggak keluar
misalnya manderes macammana nanti belanja dirumah terpaksa keluar.”(Wawancara
tanggal 16 Desember 2014)
Kondisi perekonomian diawal terbentuknya
perkampungan Lembah Jaya masih sangat sulit. Tidak ada sektor perekonomian
lainnya yang dapat di kelola di daerah baru ini. Maka untuk mencari nafkah
keluarga, sebagian besar diantara mereka (kepala keluarga) harus mencari
pekerjaan tambahan di luar kampung.
Periode kedua dimulai dari tahun 1971-1980, masa ini
merupakan masa pertambahan penduduk. Sejak mulai tahun 1972 gelombang
kedatangan penduduk terjadi dengan signifikan. sarana jalan lintas Lembah Jaya-paya
ketenggar sudah di bangun meskipun masih dalam kondisi jauh dari laik.
Periode ketiga dimulai dari tahun 1981-1998. Periode
ketiga ini ditandai kehidupan ekonomi masyarakat bertumpu pada bidang
persawahan, berdagang di pasar pagi kota langsa, dan perladangan berupa kebun
karet. barang dagangan yang di jual berupa kangkung sawah, daun ubi, genjer,
daun pisang, pakis, dan lain sebagainya. Hasil berdagang tersebut hanya dapat
sekedar memenuhi kebutuhan primer keluarga sehari-hari.
Orang orang Tapanuli yang paling awal melakukan Hijrah
ke Aceh Timur Lembah Jaya dimulai tahun 1963. Semula hanya tiga kepala keluarga
saja yang memulai hidup secara menetap di Lembah Jaya. Hal ini sebagaimana
dituturkan salah satu informan, yakni Ibu Nasbah Manik:
“Pertama
ayah si Ebit, kedua kami (Arifin Ritonga), ketiga Maknali”(wawancara tanggal 16
Desember 2014, Pukul 15:30)
Tiga kepala
keluarga tersebut adalah penghuni awal Lembah Jaya yang berasal dari etnis
Batak Tapanuli Selatan. Ayah si Ebit dalam kutipan diatas adalah bapak Ruslan
Pohan, kemudian keluarga besar Arifin Ritonga dan keluarga Maknali Harahap. Mulai
rentang waktu dari tahun 1963 sampai tahun 1970, total semua ada sembilan
kepala keluarga. Bersamaan dengan itu ada juga pendatang dari wilayah aceh
sendiri terdiri dari lima kepala keluarga diantaranya Sersan sabi, pak mayor,
husin putih, akup putih, pak kopral. Tiga orang diantaranya adalah pensiunan
ABRI.
Sebahagian masyarakat Lembah Jaya hanya bergantung
pada bidang pertanian yang tidak terlalu baik dikarenakan di daerah ini belum
adanya sistem pengairan. Sehingga petani hanya mengolah sawahnya satu kali
dalam setahun. Sebagian lainnya hanya mengandalkan hasil dari menjual
sayur-mayur berupa kangkung, genjer, daun ubi, daun pisang, pakis dan lain
sebagainya yang juga tidak terlalu menguntungkan. Hasil-hasil seperti ini hanya
bisa memberikan sekedar penghidupan seadanya saja untuk setiap hari.
Dalam kehidupan sosial masyarakat lembah diawalnya
ada hal yang sangat menarik sebagai bagian dari konsep kearifan local (Local Wisdem) yang dapat diterima oleh
semua masyarakat, yaitu gotong royong. Semua kegiatan sosial dilakukan dengan
bergotong royong misalnya kegiatan saling membantu dalam mengerjakan sawah dengan gotong royong disebut maralapari.
Kegiatan maralapari
ini dikerjakan oleh seluruh warga kampung Lembah Jaya, mekanismenya sebagai
berikut: misalkan mengerjakan sawah si A ditentukan hari senin, maka semua
warga akan datang bergotong royong (maralapari)
dihari yang ditentukan tersebut biasanya seluruh sawah milik si A akan
selesai dalam satu hari itu juga karena orang yang mengerjakannya juga
banyak. selanjutnya hari selasa kegiatan
dipindahkan ke lahan sawah si B, hari rabu di lahan si C dan seterusnya sampai
semua sawah anggota masyarakat selesai sesuai gilirannya.
Kegiatan bergotong royong bukan hanya pada
pengerjaan sawah saja, misalnya dalam pendirian rumah, jalan, jembatan,
penggalian parit dan lain sebagainya dilakukan dengan bergotong royong.
4.
Sekolah Dasar Swasta Di Lembah Jaya
Tahun 1970 masyarakat Lembah jaya mendirikan sekolah
dasar swasta. Upaya pendirian sekolah ini dilatarbelakangi sulitnya akses
pendidikan yang dapat dikangkau oleh masyarakat setempat. Hal ini senada dengan
ungkapan tokoh perintis sekolah dasar di Lembah Jaya yang juga informan, Kobul
Harahap mengatakan bahwa
”...lantaran
begini banyak anak-anak dibawak dari kampung semua kekmana pendidikan anak ini
sekolah. Kalau dibikin nanti ke alur morbo atau ke tualang siapa kawan
anak-anak siapa mengantarnya. Masa itu sd Pandan Sari belum ada” (wawancara 16
Desember 2014 Pukul; 14:01)
Berdasarkan kutipan di atas dapat dianalisis bahwa bersamaan
hijrahnya orang-orang tapanuli di lembah jaya, setiap keluarga turut membawa
anak-anak mereka yang telah memasuki usia wajib bersekolah, persoalan muncul
ketika akan menyekolahkan anak-anak mereka. Tidak ada sekolah yang dapat
dijangkau dengan mudah. Sekolah Dasar
terdekat dari perkampungan Lembah Jaya berada sekitar 15 kilometer yakni
sekolah dasar di Aluer Merbau. Jarak yang jauh dan kondisi jalan yang tidak laik mendorong masyarakat
mengambil keputusan terpenting dalam sejarah kehidupan mereka, yakni mendirikan
sekolah dasar swasta di Lembah Jaya.
Terkait pendirian dan pembangunan sekolah dasar
tersebut seorang informan, Pangeran
Siregar menuturkan bahwa:
Pembangunan
sekolah dilakukan secara gotong royong. Bapak-bapak, omak-omak, anak lajang
gadis ikut juga membantu. Di atas bukit itu mereka masak-masak untuk orang yang
membangun sekolah. Semua membantu baik yang muhammadiyah maupun yang tidak
muhammadiyah. Jarak tempat penggergajian kayu dengan lokasi sekolah ada yang
berjarak empat kilmeter, ada juga yang lima kilometer. Tempatnya tidak sama
karena enggak cukup kayunya waktu itu. mengangkatnya wakitu itu dijujung di
pikuljuga.kalau mamak-mamak dia jujung selembar papan. Waktu untuk
mengangkatnya lebih sebulan baru siap. (wawancara 16 Desember, Pukul 11:10 Wib)
Berdasarkan
kutipan di atas jelaslah bahwa proses pembangunan sekolah dasar swasta Lembah
jaya dilakukan dengan metode gotong royong. Semua anggota masyarakat baik dari
kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan pemudi turut serta berpartisifasi
untuk mensukseskan pendirian dan pembangunan sekolah. Sekolah dasar ini
merupakan representasi dari kekompakan yang masif dan kegotong royongan
masyarakat Lembah Jaya.
Untuk
kelancaran operasional sekolah ini hanya mengandalkan kontribusi dari
masyarakat dan wali siswa. Sekali lagi metode gotong royong juga berlaku untuk
memenuhi kebutuhan operasional sekolah ini. Hal ini senada dengan pernyataan
informan, nasbah manik:”biayanya dari pembayaran padi siswa itu” (wawancara
tanggal 16 Desember 2014, Pukul 15:30)
Untuk
lebih jelas mengenai biaya operasional sekolah dasar ini, dituturkan
oleh informan, pangeran siregar:
Kalau
satu anak bayarnya tiga kaleng padi, dua anak enam kaleng padi, tiga anak
sembilan kaleng padi, empat anak pun tetap sembilan kaleng padi. (wawancara 16 Desember,
Pukul 11:10 Wib)
Berdasarkan
petikan di atas jelas sekali bahwa pemenuhan biaya operasional sekolah hanya
mengandalkan dari padi yang dibayarkan oleh siswa setiap musim panen. Selain
dari pada itu diadakan pula ‘Sawah
Muhammadiyah’ maksudnya sawah yang dikelola secara gotong royong yang
hasilnya kemudian digunakan untuk operasional sekolah atau kas sekolah. Hal ini
senada dengan ungkapan nasbah manik
Ada
di buat sawah kira-kira sepuluh rante gitu, sawah ini dikerjajakan secara
gotong royong, nanti hasilnya disimpan di lumbung dekat mesjid. Kalau sekolah
perlu-perlu biaya, dijual beberapa goni sesuai keperluannya. (wawancara tanggal
16 Desember 2014, Pukul 15:30)
F.
Kesimpulan
Berdasarkan anasilis pada semua poin dalam tulisan
ini, disimpulkan bahwa:
1.
Metode gotong
royong berbasis kearifan lokal adalah suatu metode kerja sosial yang
mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, persatuan, partisifasi setiap anggota
masyarakat dalam menjawab tantangan, permasalahan sosial dan kesulitan lainnya
untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama.
2.
Metode gotong
royong berbasis kearifan lokal memiliki keunggulan positif, yakni:
a.
Memperteguh
kekompakan dan persatuan masyarakat, sehingga masyarakat senantiasa dapat
menyelesaikan sesuatu permasalahan dan kesulitan hidup bermasyarakat.
b.
Mengedepankan
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
c.
Mengedepankan
kekeluargaan dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman,
Dudung, 2007, Metode Penelitian Sejarah,
Ar-Ruz Media, Jogjakarta
Anonim,
2009, Kearifan Lokal Dalam Perencanaan
Dan Perancangan Kota Untuk Mewujudkan Arsitektur Kota Yang Berkelanjutan,
Universitas Merdeka Malang: Malang
Anonim,
2008, Kamus Bahasa Indonesia,
Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta
Burhan
Alu Umartha, 2013, Membangun Karakter
Masyarakat Aceh Menyikapi Kehidupan Global, Badan Arsip Dan Perpustakaan
Aceh: Banda Aceh
Daliman,
2012, Metode Penelitian Sejarah,
Ombak: Jogjakarta
Gurniwan
Kamil Pasya, “Jurnal Gotong Royong Dalam
Kehidupan Masyarakat” Prisma No. 3 Th 1987, Bandung: Fakultas Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia, 1987
Reni
Nuryanti, “Metode Strength, Weakness,
Opportunity, And Treaths (SWOT) Berbasis Kearifan Lokal Untuk Menjaga Potensi
Maritim” Jurnal Samudra Vol 4 No. 6 September-Desember 2012, Langsa;
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samudra, 2012
Rochmadi,
“Menjadikan Nilai Budaya Gotong Royong
Sebagai Common Identity Dalam Kehidupan Bertetangga Negara-Negara Asean” Repository
Perpustakaan Universitas Negeri Malang. 20/11/2012 9:40, Malang: Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, 2012
Wagiran,”Jurnal 1 Pengembangan Model Pendidikan
Kearifan Lokal Dalam Mendukung Visi Pembangunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
2020 (Tahun Kedua)”Jurnal Penelitian Dan Pengembangan, Volume III, Nomor 3,
ISSN 2085-9678. Hlm. 85-100, Jogjakarta: Fakultas Teknik, Universitas Negeri
Yogyakarta, 2011.
Informan
1 : Pangeran Siregar
Informan
2 : Kobul Harahap
Informan
3 : Nasbah Manik
Diselesaikan
4 januari 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar