Kotak Pendidikan Bagi Kaum Pribumi Dan Bangsa Eropa
Irfan Dame S. Pd
Dalam proses implementasi pendidikan yang diterapkan pemerintah
kolonial Belanda di nusantara memiliki peruntukan yang berbeda. Pendidikan
dibagi dalam dua golongan besar yaitu pendidikan yang diperuntukkan bagi bangsa
Eropa dan pendidikan yang diperuntukkan bagi golongan Pribumi. Pendidikan bagi golongan Pribumi itu sendiri juga masih
mengalami pemisahan yaitu pendidikan bagi golongan rakyat jelata dan pendidikan
yang diperuntukkan bagi golongan elit Pribumi.
Adanya konsep pengaturan yang membedakan posisi strata sosial
seseorang dengan taraf pendidikan yang dibolehkan untuk dienyam praktis
golongan bawah tidak akan pernah mendapatkan posisi strategis dalam hal
pekerjaan disebabkan terbatasnya akses pendidikan yang dapat diraih. Sebaliknya
anak-anak golongan elit lokal dapat dengan mudah mengisi posisi pekerjaan
karena mereka dibekali dengan pendidikan yang lebih baik.
Adapun lulusan sekolah-sekolah bikinan Belanda mendapat pekerjaan
sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan dalam negeri. di kantor-kantor
kenegerian (landschap). Lulusan
sekolah negeri yang berbahasa Belanda yang sebagian besar terdiri dari elit
adat. mendapat posisi yang lebih baik dari pada lulusan sekolah
Melayu...akibatnya timbullah pula differensiasi sosial. mobilitas sosial dan
stratifikasi sosial. (Ibrahim Alfian. 2005 : 236)
Berdasarkan kutipan di atas perbedaan kelas pendidikan berdampak
pada kesempatan mendapatkan pekerjaan diantara golongan Pribumi. Dalam konteks
ini kelompok elit lah yang selalu mujur. Namun dalam kelanjutannya hal ini
tentu menimbulkan kelas sosial yang semakin kontras satu sisi berada pada
posisi taraf hidup yang tinggi dan disisi lain berada pada kelompok dengan
taraf hidup rendah bahkan semakin terpuruk. Mobilitas sosial tidak berjalan
dengan normal melainkan hanya dikuasai kelompok elit terlebih mereka yang
sangat pro kepada pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya terbentuklah pola
kehidupan Pribumi yang terkotak-kotak semua tersusun berdasarkan kelas sosial.
Untuk lebih jelas mengenai tujuan pecah belah dalam pendidikan tersebut dapat
merujuk pada kutipan berikut.
Golongan eropa atau generasi muda penjajah barat mendapat perlakuan
istimewa. Didirikan sekolah dasar dengan nama Europesche lager school (ELS).
Disekolah ini diizinkan pula anak bangsawan ikut serta. Tujuannya memisahkan
anak bangsawan agar terjauh dari pengaruh ulama. Pada umumnya putra raja
mendapatkan pendidikan agama dibawah ulama istana (Ahmad Mansur Suryanegara.
2009: 303)
Berdasarkan kutipan ini dapat diinterpretasi bahwa ternyata ada
tujuan yang besar dibalik pelaksanaan politik etis ini terutama dalam bidang
pendidikan (educasi). Pecah belah
dimaksudkan agar kelompok elit lokal masuk dalam lingkup budaya barat yang jauh
dari ulama. Sehingga apapun ajakan ulama untuk memusuhi pemerintah kolonial
Belanda dapat diantisipasi lebih jauh. Dalam kondisi masa ini pemerintah
kolonial Belanda memandang ulama secara terbagi. Ada diantara mereka yang dianggap
sebagai ulama radikal yang dianggap
sebagai penentang pemerintah kolonial dan dan disisi lain ada juga kelompok ulama yang tidak radikal
meskipun mereka tetap saja tidak menyenangi pemerintah Kolonial Belanda.
Kelompok ulama yang dianggap radikal tersebut dilabelisasi dengan analogi
bahaya. Hal ini menjadi alasan pemerintah Belanda untuk menjauhkan elit lokal
dari pengaruh ulama tersebut.
Adanya diferensiasi dalam
pendidikan Bumiputera merupakan skenario yang tentunya memiliki alasan-alasan
tertentu pula. Diantara alasannya dijelaskan dalam petikan berikut. Menurut
direktur pengajaran perlu diadakan diferensiasi itu. karena adanya kenyataan.
bahwa masyarakat Indonesia mempunyai dua kebutuhan di lapangan. a. Lapisan atas
membutuhkan pengajaran yang dapat membawanya ke arah kemajuan dan yang dapat
memenuhi syarat-syarat kepegawaian yang selalu bertambah berat. b. Lapisan
rendah merasa cukup dengan lapisan sekolah rendah yang sangat sederhana. yang
hanya memberikan pengetahuan pokok seperti membaca. menulis dan berhitung (I. Djumhur. Danasaputra. 1976: 132)
Berdasarkan kutipan ini
pendidikan yang diberikan kepada golongan Bumiputera kelas atas memang
dipersiapkan untuk mengisi kepentingan kepegawaian dan kepentingan lainnya yang
bersifat politis. Sementara masyarakat kelas bawah cukuplah dengan mampu
menulis. membaca dan sekedar berhitung agar dapat dipergunakan sekedar untuk
kehidupan sehari-hari saja.