Rabu, 23 Desember 2015

PENDIDIKAN ERA KOLONIAL

Kotak Pendidikan Bagi Kaum Pribumi Dan Bangsa Eropa
Irfan Dame S. Pd

Dalam proses implementasi pendidikan yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda di nusantara memiliki peruntukan yang berbeda. Pendidikan dibagi dalam dua golongan besar yaitu pendidikan yang diperuntukkan bagi bangsa Eropa dan pendidikan yang diperuntukkan bagi golongan Pribumi. Pendidikan  bagi golongan Pribumi itu sendiri juga masih mengalami pemisahan yaitu pendidikan bagi golongan rakyat jelata dan pendidikan yang diperuntukkan bagi golongan elit Pribumi.
Adanya konsep pengaturan yang membedakan posisi strata sosial seseorang dengan taraf pendidikan yang dibolehkan untuk dienyam praktis golongan bawah tidak akan pernah mendapatkan posisi strategis dalam hal pekerjaan disebabkan terbatasnya akses pendidikan yang dapat diraih. Sebaliknya anak-anak golongan elit lokal dapat dengan mudah mengisi posisi pekerjaan karena mereka dibekali dengan pendidikan yang lebih baik.
Adapun lulusan sekolah-sekolah bikinan Belanda mendapat pekerjaan sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan dalam negeri. di kantor-kantor kenegerian (landschap). Lulusan sekolah negeri yang berbahasa Belanda yang sebagian besar terdiri dari elit adat. mendapat posisi yang lebih baik dari pada lulusan sekolah Melayu...akibatnya timbullah pula differensiasi sosial. mobilitas sosial dan stratifikasi sosial. (Ibrahim Alfian. 2005 : 236)

Berdasarkan kutipan di atas perbedaan kelas pendidikan berdampak pada kesempatan mendapatkan pekerjaan diantara golongan Pribumi. Dalam konteks ini kelompok elit lah yang selalu mujur. Namun dalam kelanjutannya hal ini tentu menimbulkan kelas sosial yang semakin kontras satu sisi berada pada posisi taraf hidup yang tinggi dan disisi lain berada pada kelompok dengan taraf hidup rendah bahkan semakin terpuruk. Mobilitas sosial tidak berjalan dengan normal melainkan hanya dikuasai kelompok elit terlebih mereka yang sangat pro kepada pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya terbentuklah pola kehidupan Pribumi yang terkotak-kotak semua tersusun berdasarkan kelas sosial. Untuk lebih jelas mengenai tujuan pecah belah dalam pendidikan tersebut dapat merujuk pada kutipan berikut.
Golongan eropa atau generasi muda penjajah barat mendapat perlakuan istimewa. Didirikan sekolah dasar dengan nama Europesche lager school (ELS). Disekolah ini diizinkan pula anak bangsawan ikut serta. Tujuannya memisahkan anak bangsawan agar terjauh dari pengaruh ulama. Pada umumnya putra raja mendapatkan pendidikan agama dibawah ulama istana (Ahmad Mansur Suryanegara. 2009: 303)
Berdasarkan kutipan ini dapat diinterpretasi bahwa ternyata ada tujuan yang besar dibalik pelaksanaan politik etis ini terutama dalam bidang pendidikan (educasi). Pecah belah dimaksudkan agar kelompok elit lokal masuk dalam lingkup budaya barat yang jauh dari ulama. Sehingga apapun ajakan ulama untuk memusuhi pemerintah kolonial Belanda dapat diantisipasi lebih jauh. Dalam kondisi masa ini pemerintah kolonial Belanda memandang ulama secara terbagi. Ada diantara mereka yang dianggap sebagai ulama radikal  yang dianggap sebagai penentang pemerintah kolonial dan dan disisi lain ada  juga kelompok ulama yang tidak radikal meskipun mereka tetap saja tidak menyenangi pemerintah Kolonial Belanda. Kelompok ulama yang dianggap radikal tersebut dilabelisasi dengan analogi bahaya. Hal ini menjadi alasan pemerintah Belanda untuk menjauhkan elit lokal dari pengaruh ulama tersebut.
Adanya diferensiasi  dalam pendidikan Bumiputera merupakan skenario yang tentunya memiliki alasan-alasan tertentu pula. Diantara alasannya dijelaskan dalam petikan berikut. Menurut direktur pengajaran perlu diadakan diferensiasi itu. karena adanya kenyataan. bahwa masyarakat Indonesia mempunyai dua kebutuhan di lapangan. a. Lapisan atas membutuhkan pengajaran yang dapat membawanya ke arah kemajuan dan yang dapat memenuhi syarat-syarat kepegawaian yang selalu bertambah berat. b. Lapisan rendah merasa cukup dengan lapisan sekolah rendah yang sangat sederhana. yang hanya memberikan pengetahuan pokok  seperti membaca. menulis dan berhitung   (I. Djumhur. Danasaputra. 1976: 132)

Berdasarkan  kutipan ini pendidikan yang diberikan kepada golongan Bumiputera kelas atas memang dipersiapkan untuk mengisi kepentingan kepegawaian dan kepentingan lainnya yang bersifat politis. Sementara masyarakat kelas bawah cukuplah dengan mampu menulis. membaca dan sekedar berhitung agar dapat dipergunakan sekedar untuk kehidupan sehari-hari saja.